Kamis, 10 Februari 2022

Imam al-Bukhari juga Ahli Ta’wil

 Ibnu Hajar al-Asqalaniy memberitahukan kepada kita bahwa Imam al-Bukhari dalam membahas terkait akidah (ilmu kalam), beliau mengikuti al-Karaabisiy dan Ibnu Kullab. Kedua tokoh besar Ahlussunah wal Jama’ah ini dikenal sebagai ahli kalam sebelum Imam al-Asy’ari yang mentakwil sifat khabariyah Allah. . Al-Asqalaniy berkata :

أَنَّ الْبُخَارِيَّ فِي جَمِيعِ مَا يُورِدُهُ مِنْ تَفْسِيرِ الْغَرِيبِ إِنَّمَا يَنْقُلُهُ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْفَنِّ كَأَبِي عُبَيْدَةَ وَالنَّضْرِ بْنِ شُمَيْلٍ وَالْفَرَّاءِ وَغَيْرِهِمْ وَأَمَّا المباحث الفقهيه فغالبها مستمدة من الشَّافِعِي وَأبي عبيد وَأَمْثَالِهِمَا وَأَمَّا الْمَسَائِلُ الْكَلَامِيَّةُ فَأَكْثَرُهَا مِنَ الْكَرَابِيسِيِّ وبن كِلَابٍ وَنَحْوِهِمَا

Imam al-Bukhari dalam menafsirkan kata-kata yang gharib (asing) menukil dari ahli bidang ini seperti Abu Ubaidah, Nadlr ibn Syumail, al Farra’ dan lainnya. Dalam pembahasan fiqh beliau mengambil dari asy Syafii, Abu Ubaid dan lainnya. Adapun dalam masalah ilmu kalam maka kebanyakan mengambil dari al-Karaabisiy, Ibn Kullab dan lainnya.[1]

Contoh ta’wil Imam al-Bukhari :

1.    Firman Allah Ta’ala, Q.S. al-Qasas : 88, berbunyi :

وَلَا تَدۡعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۘ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ كُلُّ شَيۡءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجۡهَهُۥۚ لَهُ ٱلۡحُكۡمُ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ

Jangan engkau sembah tuhan selain Allah. Tidak ada tuhan kecuali Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan. (Q.S. al-Qasas : 88)

 

Dalam menafsir ayat ini, Imam al-Bukhari mengatakan :

}كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ {  إِلَّا مُلْكَهُ، وَيُقَالُ: إِلَّا مَا أُرِيدَ بِهِ وَجْهُ اللهِ

 Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya”, maksudnya adalah“Kecuali kekuasaan-Nya. Dan ada pendapat lain yang mengatakan “Kecuali yang ditujukan karena wajah Allah”.[2]

2.    Firman Allah Ta’ala berbunyi :

إِنِّي تَوَكَّلۡتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ ‌بِنَاصِيَتِهَآۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ

Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, tuhanku dan tuhanmu. Tidak ada satupun makhluk yang bergerak melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya tuhanku dijalan yang lurus. (Q.S. Hud : 56)

Imam al-Bukhari  dalam menafsirkan ayat di atas mengatakan :

}آخِذٌ ‌بِنَاصِيَتِهَا} أَيْ: فِي مِلْكِهِ وَسُلْطَانِهِ

Dialah yang memegang ubun-ubunnya dengan  makna dalam kekuasaan dan kerajaan-Nya.[3]

Mengomentari penjelasan Imam al-Bukhari di atas, Ibnu Hajar al-Asqalaniy mengatakan :

قَوْلُهُ آخِذٌ ‌بِنَاصِيَتِهَا فِي مُلْكِهِ وَسُلْطَانِهِ قَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى مَا مِنْ دَابَّةٍ الا هُوَ آخذ ‌بناصيتها أَيْ فِي قَبْضَتِهِ وَمُلْكِهِ وَسُلْطَانِهِ وَخَصَّ النَّاصِيَةَ بِالذِّكْرِ عَلَى عَادَةِ الْعَرَبِ فِي ذَلِكَ تَقُولُ نَاصِيَةُ فُلَانٍ فِي يَدِ فُلَانٍ إِذَا كَانَ فِي طَاعَتِهِ

Perkataannya :  “Dialah yang memegang ubun-ubunnya dengan  makna dalam kekuasaan dan kerajaan-Nya”. Abu ‘Ubaidah mengatakan pada firman Allah Ta’ala “Tidak ada satupun makhluk yang bergerak melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya”, artinya pada genggaman, kekuasaan dan kerajaan-Nya. Dikhususkan ubun-ubun dalam penyebutan berdasarkan kepada adat orang Arab perihal itu. Kamu mengatakan, “Ubun-ubun sipulan pada tangan sipulan yang lain, apabila si pulan tersebut berada dalam keta’atan kepada lain. [4]

 

 

 



[1] Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Fathul Barri, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 243

[2] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. Vi, Hal. 112

[3] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. Vi, Hal. 73

[4] Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Fathul Barri, Maktabah Syamilah, Juz. VI, Hal. 348

Tidak ada komentar:

Posting Komentar