Jumat, 30 Desember 2011

Ghayatul Wushul (terjemahan & penjelasannya), Pengertian al-Ada' , Hal. 16-17

( وَالأَصَحُّ أَنَّ الأَدَاءَ فِعْلُ الْعِبَادَةِ ) صوما أوصلاة أوغيرهما ( أَوْ ) فعل ( رَكْعَةٍ ) من الصلاة ( فِيْ وَقْتِهَا ) مع فعل البقية بعده واجبة كانت أومندوبة وتعبيرى بالركعة هنا وبدونها فى القضاء أولى من تعبيره بالبعض لما لا يخفى ولخبر الصحيحين " من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة " أى مؤداة وقيل الأداء فعل العبادة فى وقتها ففعل بعضها فيه ولوركعة وبعضها بعده لايكون أداء حقيقة كما لايكون قضاء كذلك بل يسمى بأحدهما مجازا بتبعية ما فى الوقت لما بعده أو بالعكس وهذا ما عليه الأصوليون واعتبار الركعة فى الأداء ودونها فى القضاء كما سيأتى ذكره الفقهاء وانما ذكرته هنا تبعا للأصل والخبر المذكور قد لايدل على ما ذكروه لاحتمال انه فيمن زال عذره كجنون وقد بقى من الوقت ما يسع ركعة فيجب عليه الصلاة ( وَهُوَ ) أى وقت العبادة المؤداة ( زَمَنٌ مُقَدَّرٌ لَهَا شَرْعًا ) موسعا كان كزمن الصلوات المكتوبة وسننها أومضيقا كزمن صوم رمضان أو الأيام البيض فمالم يقدر له زمن شرعا كنذر ونفل مطلقين وغيرهما وان كان فوريا كالإيمان لايسمى فعله أداء ولاقضاء اصطلاحا وان كان الزمن ضروريا لفعله ومن ذلك ما وقته العمر كالحج وتسمية بعضهم لوقته موسعا مجاز اذ الموسع ما يعلم المكلف آخره وآخر العمر لايعلمه فلا يسمى فعله أداء ولاقضاء اصطلاحا بل يسماهما مجازا أو لغة كأداء الدين وقضائه نبه على ذلك العلامة البرماوى

(Menurut pendapat yang lebih shahih, sesungguhnya al-ada’ adalah melakukan ibadah) baik puasa, shalat atau lainnya (atau) melakukan (satu raka’at) shalat (dalam waktunya) serta melakukan sisanya sesudah waktunya, baik itu yang wajib atau sunnat. ‘Ibaratku dengan perkataan “raka’at” di sini dan bukan dengan “raka’at” pada masalah qadha lebih baik dari ‘ibarat Ashal dengan perkataan “al-ba’dh”, karena alasan yang tidak tersembunyi dan karena ada hadits Shahihaini : “Barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari shalat, maka sungguh sudah mendapati shalat.”(1), yaitu yang melakukannya secara al-ada’.

Ada pendapat, al-ada’ adalah melakukan ibadah dalam waktunya. Maka melakukan sebagiannya dalam waktu, meskipun hanya satu raka’at dan sebagian lainnya sesudah keluar waktu bukanlah al-ada’ pada hakikat, sebagaimana bukanlah qadha seperti itu juga, tetapi dinamakan salah satunya sebagai majaz, dengan jalan mengikutkan apa yang di dalam waktu kepada sesudah waktu atau sebaliknya.(2) Ini pendapat Ushuliyuun. Sedangkan i’tibar raka’at pada al-ada’ dan dibawah satu rakaat pada qadha sebagaimana yang akan datang merupakan pendapat yang disebut oleh fuqaha. Sesungguhnya hanya aku menyebutnya di sini adalah mengikuti Asal. Sedangkan khabar yang telah disebutkan kadang-kadang tidak menunjuki atas yang mereka sebutkan, karena boleh jadi itu pada orang-orang yang hilang ‘uzurnya seperti gila, padahal masih tersisa waktu yang memuatkan satu raka’at, maka wajib shalat atasnya.

(Dan ia) yakni waktu ibadah tunai (adalah waktu yang telah ditentukan baginya pada syara’), baik itu waktu yang lapang seperti waktu shalat wajib dan sunnat-sunnatnya maupun waktu yang sempit, seperti waktu puasa Ramadhan atau puasa hari putih.(3) Karena itu, ibadah yang tidak ditentukan waktunya pada syara’ seperti nazar, sunnat yang mutlaq kedua-duanya dan lainnya, meskipun ia secara segera dilakukan seperti iman tidaklah dinamakan dengan al-ada’ dan juga tidak dinamakan dengan qadha pada istilah, meskipun waktu itu merupakan dharuri(4) bagi perbuatannya. Termasuk dari itu adalah ibadah yang waktunya adalah umur seperti haji. Sedangkan penamaan sebagian ulama untuk waktunya sebagai waktu lapang adalah majaz, karena waktu yang lapang adalah waktu yang diketahui oleh mukallaf akan akhirnya, sedangkan akhir umur tidak diketahuinya, karena itu tidak dinamakan perbuatannya sebagai al-ada’ dan sebagai qadha, tetapi dinamakan keduanya secara majaz atau lughat seperti al-ada’ atau menunaikan hutang dan qadhanya atau membayarnya. Telah diberitahukan oleh ‘Alamah al-Barmawi hal demikian.


Penjelasan

(1). Hadits riwayat Abu Hurairah dalam Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 151, No. Hadits : 580 dan dalam Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 102, No. Hadits : 1401

(2). Dinamakan sebagai qadha secara majaz dengan jalan mengikutkan yang di dalam waktu kepada yang dikerjakan sesudah waktu dan sebaliknya, dinamakan al-ada’ secara majaz dengan jalan mengikutkan yang diluar waktu kepada yang dikerjakan di dalam waktu.

(3). Puasa sunnat pada hari ketiga belas, empat belas dan lima belas bulan qamariah[1]

(4). Sesuatu yang tidak boleh tidak adanya



1 Zainuddin al-Malibary, Fath al-Mu’in, dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang , Juz. II, Hal. 269

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar