Minggu, 13 Maret 2022

Hadits “Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi”

 Bunyi lengkap hadits ini adalah sebagai berikut:

 

شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يُرْفَعُ إِلَّا بِزَكَاةِ الْفِطْر

“Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak diangkat kecuali  dengan zakat fitrah”

Berikut ini keterangan para ulama terkait hadits di atas :

1.    Imam al-Suyuthi dalam kitab beliau, al-Jaami’ al-Shaghir menisbahkan hadits ini kepada Ibnu Syahiin dalam Targhibnya dan al-Zhiya’ dalam al-Mukhtarah dari Jarir bin Abdullah. Kemudian al-Munawi dalam syarahnya menambahkan, hadits ini juga telah didatangkan oleh Ibnu al-Jauziy dalam al-Wahiyaat, beliau mengatakan, tidak shahih. Di dalam sanadnya ada Muhammad bin ‘Ubaid al-Bashriy. Dia ini tidak dikenal.[1]

2.    Hadits ini juga telah disebut Ibnu al-Mundzir dalam kitabnya al-Targhiib wa al-Tarhiib. Beliau mengatakan, hadits ini telah diriwayat oleh Abu Hafash bin Syahiin dalam Fadhail Ramadhan. Abu Hafash bin Syahiin mengatakan, hadits gharib jaid (maqbul) isnad. [2]

3.    Ibnu Mulaqqin juga telah menyebut hadits ini dalam kitab beliau, al-Tauzhih li Syarh al-Jaami’ al-Shahih dengan menisbahkan kepada Ibnu Syahiin. Ibnu Mulaqqin mengatakan, Ibnu Syahiin berkata : “Hadits ini gharib jaid Isnad dari Jarir secara marfu’.

4.    Dalam beberapa kitab fiqh Syafi’iyah hadits ini disebut dengan menjelaskan statusnya sebagai hadits gharib hasan. Di antaranya dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj[3] dan Hasyiah al-Bujairumiy ‘ala Syarah al-Manhaj.[4]

5.    Dalam menjelaskan makna hadits ini, pengarang I’anah al-Thalibin berkomentar :

وهو كناية عن توقف تمام ثوابه، حتى تؤدى الزكاة، فلا ينافي حصول أصل الثواب بدونها

Hadits ini merupakan kinayah dari bergantung kesempurnaan pahala puasa Ramadhan sehingga ditunaikan zakat. Karena itu, tidak menafikan adanya asal pahala tanpa zakat.[5]

 

 

 



[1] Al-Munawiy, Faidh al-Qadir Syarah al-Jaami’ al-Shaghir, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 166

[2] Ibnu al-Mundzir, al-Targhiib wa al-Tarhiib, Dar al-Kutub aal-Mufidah, Juz. II,  Hal. 97

[3] Ibnu Hajar al-Haitamiy, Tuhfah al-Muhtaj, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 305

[4] Al-Bujairumiy, Hasyiah al-Bujairumiy ‘ala Syarah al-Manhaj, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 43

[5] Abu Bakar Syatha, I’anah al-Thalibin, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 190

Tidak ada komentar:

Posting Komentar