Jumat, 20 April 2012

Takhrij Hadits dalam Syarah al-Mahalli ‘ala Minhaj al-Thalibin, (Juz. I, Hal. 36-39)

1. Hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda :

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِى بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَىْءٌ أَمْ لاَ فَلاَ يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Artinya : Apabila salah seorang kamu mendapati sesuatu dalam perutnya, sementara ia musykil apakah sesuatu itu sudah keluar atau tidak, maka jangan keluar dari masjid sehingga ia mendengar suara atau mendapati bawunya. (Syarah al-Mahalli, Juz. I, Hal. 37)


Imam Muslim telah meriwayat hadits ini dalam Shahihnya.[1] Hadits yang semakna dengan ini berbunyi Rasulullah SAW bersabda :

لَا وضوء إِلَّا من صَوت أَو ريح

Artinya : Tidak ada wudhu’ kecuali daripada suara atau bawu.


Ibnu Mulaqqan mengatakan, hadits ini shahih, telah diriwayat oleh para imam, yakni Ahmad, Turmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi dari riwayat Abu Hurairah dengan isnad semua rijalnya terpercaya.[2]


2. Hadits riwayat al-Syaikhaini (Bukhari dan Muslim), Nabi SAW bersabda :

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا بِبَوْلٍ وَلاَ غَائِطٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

Artinya : Apabila kamu mendatangi jamban, maka janganlah menghadap kiblat dan membelakanginya dalam buang air besar dan kecil, tetapi menghadaplah ke timur atau barat. (Syarah al-Mahalli, Juz. I, Hal. 39)


Bukhari dan Muslim meriwayat hadits ini dalam Shahihaini.[3]


3. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim berbunyi :

انه صلى الله عليه وسلم َقْضي حَاجَتَهُ في بيت حفصة مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ مُسْتَدْبِرَ الْكعبَةِ

Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW mengqadha hajadnya dalam rumah Hafsah dengan menghadap negeri Syam dan membelakangi Ka’bah. (Syarah al-Mahalli, Juz. I, Hal. 39)


Bukhari meriwayat hadits ini dalam Shahihnya dengan lafazh berbunyi :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : ارْتَقَيْتُ فَوْقَ بَيْتِ حَفْصَةَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ.

Artinya : Dari Abdullah bin Umar r.a., beliau mengatakan, : “Aku pernah menaiki atap rumah rumah Hafshah, kebetulan aku melihat Nabi SAW qadha hajad dengan membelakangi kiblat dan menghadap negeri Syam.” (H.R. Bukhari)[4]



Sedang redaksi hadits menurut riwayat Muslim sebagai berikut :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَقِيتُ عَلَى بَيْتِ أُخْتِى حَفْصَةَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَاعِدًا لِحَاجَتِهِ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ

Artinya : Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan, Aku pernah menaiki atap rumah saudaraku Hafshah, kebetulan aku melihat Rasulullah SAW duduk untuk qadha hajad dengan menghadap negeri Syam dan membelakangi kiblat. (H.R. Muslim)[5]



4. Hadits riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan isnad hasan berbunyi :

انه صلى الله عليه وسلم ذكر عنده أن ناسا يكرهون استقبال القبلة بفروجهم أوقد فعلوها حولوا بمقعدتي إلى القبلة

Artinya : Sesungguhnya pernah disebutkan kepada Nabi SAW bahwa manusia membenci menghadap kiblat dengan farajnya, Nabi SAW bersabda : “Apakah mereka melakukannya ?, maka arahkanlah tempat dudukku kepada kiblat. (Syarah al-Mahalli, Juz. I, Hal. 39)


Imam al-Nawawi mengatakan hadits ‘Aisyah ini telah diriwayat oleh Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Majah dan isnadnya hasan.[6]



[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 190, No. Hadits : 831

[2] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 419

[3] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 109, No. Hadits : 394 dan Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 259, No. Hadits : 632

[4] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 100, No. Hadits : 3102

[5] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 262, No. Hadits : 635

[6] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 78

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar