Selasa, 20 November 2012

Ayat Makkiyah dan Madaniyah (materi mata kuliah Pengantar Ilmu al-Qur'an di STAI Tapaktuan (pertemuan VIII)

A.    Pendahuluan
Para ulama begitu tertarik untuk menyelidiki surah-surah makki dan madani. Mereka meneliti Qur`an ayat demi ayat dan surah-demi surah, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Bahkan lebih dari itu, mereka mengumpulkan antara waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan pada peneliti obyektif gambaran mengenai penyelidikan ilmiah tentang ilmu makki dan madani.
Yang terpenting dipelajari para ulama dalam pembahasan ini adalah :
1.      Yang diturunkan di Makkah,
2.      Yang diturunkan di Madinah,
3.      Yang diperselisihkan,
4.      Ayat-ayat makkiyah dalam surah-surah madaniyah,
5.      Ayat-ayat madaniyah dalam surat makkiyah,
6.      Yang diturunkan di Makkah sedang hukumnya madaniyah,
7.      Yang diturunkan di Makkah sedang hukumnya madaniyah,
8.      Yang serupa dengan yang diturunkan di Makkah (makkiyah) dalam kelompok madaniyah,
9.      Yang serupa dengan yang diturunkan di madinah ( madanyiah ) dalam kelompok makkiyah;
10.  Yang dibawa dari Makah ke Madinah,
11.  Yang dibawa dari Madinah ke Makkah,
12.  Yang turun di waktu malam dan siang,
13.  Yang turun dimusim panas dan dingin,
14.  Yang turun diwaktu menetap dan dalam perjalanan.

B.     Pengertian Makkiyah dan Madaniyah
Pengertian yang masyhur untuk Makkiyah yaitu ayat yang turun sebelum hijrah ke Madinah, meski turunnya diluar di luar kota Makkah. Madaniyah yaitu ayat yang turun sesudah hijrah, baik turunnya di dalam kota Makkah maupun di Madinah, turun pada tahun penaklukan Makkah maupun pada waktu haji Wida’, atapun pada ketika melakukan musafir.
Pengertian lain, ayat makkiyah adalah ayat yang diturunkan di Makkah meskipun sesudah hijrah, sedangkan madaniyah adalah ayat yang diturunkan di Madinah. Berdasarkan pengertian ini, ada ayat yang tidak disebut makkiyah dan juga tidak sebut dengan madaniyah, yaitu ayat-ayat yang diturunkan dalam perjalanan-perjalanan.

C.    Cara menentukan Makkiyah dan Madaniyah :
Untuk mengetahui dan menentukan makkiyah dan madaniyah, para ulama bersandar pada dua cara utama :
-       Manhaj sima`I ( metode periwayatan seperti apa adanya ) dan
-       Manhaj qiyasi ( menganalogikan dan ijtihad ).

Cara sima’i  : didasarkan pada riwayat sahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu atau dari para tabi`in yag menerima dan mendengar dari para sahabat bagaimana, dimana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu. Sebagian besar penentuan makkiyah dan madaniyah itu didasarkan pada cara pertama.
Cara qiyasi : didasarkan pada ciri-ciri makkiyah dan madaniyah. Apabila dalam suatu surah terdapat suatu ayat yang mengandung ayat madani atau mengandung persitiwa madani, maka dikatakan bahwa ayat itu madaniyah. Dan sebaliknya apabila dalam satu surah terdapat ciri-ciri makki, maka surah itu dinamakan surah makkiyah, juga sebaliknya. Inilah yang disebut qiyas ijtihadi.
D.    Ciri-Ciri khas Makkiyah dan Madaniyah (cara qiyasi)
Para ulama telah meneliti ayat-ayat makkiyah dan madaniyah dan menyimpulkan beberapa ketentuan yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakannya. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri antara lain :
a.       Setiap surah yang didalamnya ada perkataan “Ya aiyuhannas” dan tidak ada padanya perkataan “Ya aiyuhallazi amanuu” , maka makkiyah tetapi surah al-Hajj terjadi perbedaan pendapat ulama.
b.      Setiap surah yang ada perkataan “Kallaa” adalah makkiyah
c.       Setiap surah yang didahului huruf mu’jam adalah makkiyah kecuali al-Baqarah, Ali Imran, tetapi mengenai surah al-Ra’d ada khilaf ulama.
d.      Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan Iblis adalah makkiyah kecuali al-Baqarah
e.       Setiap surah yang disebut munafiqin adalah madaniyah kecuali al-‘Ankabut.
f.       Setiap surah yang menyebut hudud dan faraidh adalah madaniyah dan setiap surah yang menceritakan masa lalu adalah makkiyah (Menurut al-Hisyam dari bapaknya)
Catatan
Berikut ini surah-surah madaniyah, yaitu 20 surah :
Al-baqarah, ali imran, al-nisa’, al-maidah, al-anfal, al-taubah, al-nur, al-ahzab, Muhammad, al-fath, al-hujaraat, al-hadid, al-mujadalah, al-hasyar, al-mumtahinah, al-jum’ah, al-munafiqun, al-thalaq, al-tahrim dan al-nashr.
Surah- surah yang khilaf ulama, yaitu 12 surah, yaitu :
Al-fatihah, al-ra’d, al-rahman, al-shaff, al-taghabun, al-tathfif, al-qadr, al-bainah, al-zalzalah, al-ikhlash, al-falaq dan al-nas.
Selebihnya adalah makkiyah, yaitu 82 surah

E.     Faedah Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
Pengetahuan tentang makkiyah dan madaniyang banyak faedahnya diantaranya:
Pertama : Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al Qur`an,
Sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menmafsirkannya dengan tafsiran yang benar. Sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh, bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh yang tedahulu.
Kedua : Meresapi gaya bahasa Quran dan memanfaatkannya dalam metode dakwah menuju jalan Allah.
Sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi merupakan arti peling khusus dlam retorika. Karakteristik gaya bahasa makkiyah dan madaniyah dalam Quran pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai pikiran dan perasaaannya serta menguasai apa yang ada dalam dirinya dengan penuh kebijaksanaan.
Ketiga : Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur`an.
Sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik dalam periode Makkah maupun Madinah. Sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Qur`an adalah sumber pokok bagi peri hidup Rasulullah SAW, peri hidup beliau yang diriwayatka ahli sejarah harus sesuai dengan Qur’an.

Daftar Pustaka
1.      Al-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, al-Haramain, Singapura,
2.      Mana’ Al-Qaththan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Maktabah Wahbah, Kairo,
3.      Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, Dar al-Turats, Kairo

Dosen : Tgk Alizar Usman



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar