Senin, 25 Juli 2011

Ghayatul Wushul (terjemahan & penjelasannya), Pengertian hukum,-hukum Islam, Hal. 10-11

( فَإِنِْ اقْتَضَىْ ) أى طلب الخطاب الذى هو كلام الله النفسى ( فِعْلاً غَيْرَ كَفٍّ ) من المكلف ( إِقْتِضَاءً جَازِمًا ) بأن لم يجز تركه ( فَإيْجَابٌ ) أى فهذا الخطاب يسمى إيجابا ( أَوْ ) اقتضاء ( غَيْرَ جَازِمٍ ) بأن جوز تركه ( فَنَدْبٌ أَوْ ) اقتضى ( كَفًّا ) اقتضاء ( جَازِمًا )بأن لم يجز فعله( فَتَحْرِيْمٌ أَوْ ) اقتضاء ( غَيْرَ جَازِمٍ بِنَهْيٍ مَقْصُوْدٍ ) لشئ كالنهى فى خبر الصحيحين " اذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلى ركعتين ( فَكَرَاهَةٌ ) أى فالخطاب المدلول عليه بالمقصود يسمى كراهة ولا يخرج عن المقصود دليل المكروه اجماعا أوقياسا لأنه فى الحقيقة مستند الإجماع أودليل المقيس عليه وذلك من المقصود وقد يعبرون عن الإيجاب والتحريم بالوجوب والحرمة لأنهما أثرهما وقد يعبرون عن الخمسة بمتعلقاتها من الأفعال كالعكس تجوزا فيقولون فى الأول الحكم اما واجب أو مندوب الخ وفى الثانى الفعل اما ايجاب أو ندب الخ ( أَوْ بِغَيْرِ مَقْصُوْدٍ ) وهو النهى عن ترك المندوبات المستفاد من أوامرها اذ الأمر بشئ يفيد النهى عن تركه ( فَخِلاَفُ الأَوْلَىْ ) أى فالخطاب المدلول عليه بغير المقصود يسمى خلاف الأولى كما يسماه متعلقه فعلا غير كف كان كفطر مسافر لا يتضرر بالصوم كما سيأتى أوكفا كترك صلاة الضحى والفرق بين قسمى المقصود وغيره ان الطلب فى المقصود اشد منه فى غيره والقسم الثانى وهو واسطة بين الكراهة والإباحة زاده جماعة من متأخرى الفقهاء منهم امام الحرمين على الأصوليين وأما المتقدمون فيطلقون المكروه على القسمين وقد يقولون فى الأول مكروه كراهة شديدة كما يقال فى قسم المندوب سنة مؤكدة وعلى ماعليه الأصوليون يقال أوغير جازم فكراهة ( أَوْ خُيِّرَ ) الخطاب بين الفعل المذكور والكف عنه ( فَإِبَاحَةٌ ) وتعبيرى بخير سالم مما يرد على تعبيره بالتخيير من انه يقتضى ان فى الإباحة اقتضاء وليس كذلك وان كان عن الإيراد جواب وزدت غير كف لأسلم من مقابلة الفعل بالكف الذى عبر عنه الأصل بالترك وهو لايقابل به اذ الكف فعل والترك فعل هو كف كما سيأتى

(Dengan demikian, jika menuntut) artinya titah yang merupakan kalam Allah yang bersifat nafsi menuntut (perbuatan yang bukan meninggalkan) dari mukallaf (sebagai tuntutan yang mesti,) dengan makna tidak boleh meninggalkannya (maka adalah ijab) yakni Khithab ini dinamakan dengan ijab )atau) sebagai tuntutan (yang tidak mesti) yakni boleh meninggalkannya (maka adalah nadab atau) menuntut (meninggalkannya) sebagai tuntutan (yang mesti) yakni tidak boleh melakukannya (maka adalah tahrim atau) sebagai tuntutan (yang tidak mesti dengan larangan yang diqashadkan) bagi sesuatu seperti larangan pada hadits Shahihain “Apabila salah seorang kamu memasuki masjid, maka jangan duduk sehingga melakukan shalat dua raka’at”(1) (maka adalah karahah).Maka titah yang ditunjuki atasnya dengan yang diqashadkan dinamakan karahah. Dalil makruh dalam bentuk ijmak dan qiyas tidak keluar dari yang diqashadkan, karena titah yang ditunjuki atasnya dengan yang diqashadkan, pada hakikatnya adalah sandaran ijmak atau dalil maqis ‘alaihi.(2) Sedangkan hal itu termasuk dari yang diqashadkan. Kadang-kadang mereka meng’ibaratkan untuk ijab dan tahrim dengan wujub dan haram, karena wujud dan haram merupakan akibat dari ijab dan tahrim. Kadang-kadang mereka meng’ibaratkan untuk yang lima itu dengan perbuatan yang merupakan tempat ta’alluq-nya demikian juga sebaliknya dengan jalan majaz.(3) Maka mereka mengatakan pada masalah pertama, “hukum adakalanya wajib atau mandub” dan seterusnya dan pada masalah kedua, “Perbuatan adakalanya ijab atau nadab” dan seterusnya(4) (atau dengan larangan yang tidak diqashadkan) yaitu larangan dari meninggalkan perbuatan sunnat yang dipahami dari perintah melakukannya, karena perintah sesuatu menunjukkan kepada larangan meninggalkannya (maka adalah khilaf aula). Maka titah yang ditunjuki atasnya dengan yang tidak diqashadkan dinamakan dengan khilaf aula, sebagaimana dinamakan tempat ta’alluqnya dengan khilaf aula pula, baik perbuatan yang bukan meninggalkan seperti berbuka puasa musafir yang tidak mudharat dengan sebab puasa sebagaimana yang akan datang atau perbuatan meninggalkan seperti meninggalkan shalat dhuha. Perbedaan diantara dua pembagian, yakni yang diqashadkan dengan yang tidak diqashadkan adalah tuntutan pada yang diqashadkan lebih berat dari pada tuntutan pada yang tidak diqashadkan. Pembagian kedua yang merupakan perantara antara karahah dan ibahah, telah ditambah oleh satu jama’ah dari mutaakhirun fuqaha atas pembagian Ushuliyun. Termasuk dari mutaakhirun itu adalah Imam Haramain. (atau membuat pilihan) oleh titah tersebut antara perbuatan yang telah disebutkan atau meninggalkannya (maka adalah ibahah) ‘Ibaratku dengan khaiyara selamat dari hal-hal yang mendatangkan kritikan atas ‘ibarat Ashal dengan takhyir yaitu ‘ibarat dengan takhyir menghendaki tuntutan pada ibahah,(5) padahal tuntutan itu tidak ada, meskipun untuk kritikan itu ada jawabannya. Saya lebihkan perkatakan “ghairu kaff/bukan meninggalkan” karena saya selamatkan dari lawan perbuatan meninggalkan yang di’ibaratkan oleh Ashal dengan tark. Tark itu tidak berlawanan dengan perbuatan, karena kaff adalah perbuatan dan tark juga perbuatan yang dianya itu adalah kaff sebagaimana akan datang.

Penjelasannya
(1)Hadits ini diriwayat oleh Bukhari 1 dan Muslim 2 dalam Shahihain

(2)Maqis ‘alaihi adalah asal yang menjadi tempat qiyas kasus yang tidak nash dari syara’(furu’).3 Contoh hukum makruh dengan ijmak adalah berpaling dalam shalat.4 Yang menjadi tinjauan apakah larangan di sini termasuk larangan yang diqashadkan adalah sandaran dalil dari ijmak ini, yaitu hadits riwayat Anas, beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda kepadaku :
اياك والالتفات في الصلاة
Artinya : Jauhkan berpaling dalam shalat (H.R. Turmidzi) 5

Sedangkan contoh hukum makruh dengan dalil qiyas adalah makruh memasuki masjid orang yang berbau mulut karena makan makanan yang berbau keji karena qiyas kepada makruh memasuki masjid orang yang makan bawang putih6 yang ditetapkan berdasarkan hadits :
من أكل من هذه الشجرة فلا يقربن مسجدنا ولا يؤذينا بريح الثوم

Artinya : Barangsiapa yang makan pohon ini, maka jangan mendekati masjid kami dan jangan menyakiti kami dengan bau bawang putih (H.R. Muslim) 7

Yang menjadi tinjauan apakah larangan di sini termasuk larangan yang diqashadkan adalah dalil maqis ‘alaihi, yaitu hadits di atas.

(3)Majaz yang dimaksud di sini adalah majaz mursal, yaitu menggunakan sebuah lafazh kepada yang bukan makna aslinya karena ada ‘alaqah (hubungan) yang tidak serupa seperti menggunakan lafazh kul untuk makna sebagian, sebab untuk akibat, keadaan untuk sesuatu yang menjadi tempat berdiri keadaan itu dan sebaliknya dan lain-lain.8 Meng’ibaratkan untuk ijab dan tahrim dengan wujub dan haram merupakan majaz mursal dengan ‘alaqah-nya menyebut suatu lafazh dengan makna lazimnya dan meng’ibarat untuk yang lima yaitu ijab, nadab, tahrim, ibahah dan karahah dengan perbuatan yang merupakan tempat ta’alluq-nya, yaitu wajib, mandub, mahdhurah, mubah dan makruh, demikian juga sebaliknya adalah majaz mursal dengan alaqah-nya menyebut sesuatu yang menjadi tempat berdiri keadaan dengan makna keadaan

(4)Masalah pertama adalah meng’ibaratkan untuk yang lima, yaitu ijab, nadab, tahrim, ibahah dan karahah dengan perbuatan yang merupakan tempat ta’alluq-nya dan masalah kedua adalah sebaliknya

(5)Kalau di’ibarat dengan takhyir, maka takhyir tersebut di-athaf atas fi’lan ghaira kaffin, tentunya menghendaki ada tuntutan pada ibahah. Karena menjadi makna kalam : “kalau titah itu menuntut pilihan…dan seterusnya.” Diantara jawaban yang dikemukan untuk menjawab kritikan terhadap ‘ibarat takhyir antara lain ;
a.Iqtizha’ bermakna ifadah, bukan khusus tuntutan. Namun di sini menghendaki berhimpunnya hakikat dan majaz pada satu kata.
b.Iqtizha’ ada bermakna a’lama dan ada bermakna addaa. Di sini menghendaki pemakaian satu lafazh musytarak pada dua makna. 9

DAFTAR PUSTAKA
1.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. II, Hal. 56, No. Hadits 1163
2.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. I, Hal. 495, No. Hadits : 714
3.Zakariya Anshari, Ghayatul Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 111
4.Ibnu Abd al-Bar, Ijmak Ibnu Abd al-Bar, Dar al-Qasim, Riyadh, Hal. 70
5.Dr. Wahbah Zuhaili, Fiqh Islami wa Adillatuhu, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 777
6.Zarkasyi, I’lam al-Sajid bi Ahkam al-mMsjid, Kairo, Hal. 329
7.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. II, Hal. 394, No. Hadits : 563
8.Ahmad Damanhuri, Syarah Haliah al-Labb al-Mashun, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Hal. 147-148
9.Jalaluddin al-Mahalli dan Syaikh al-‘Ithar, Syarah Jam’u al-Jawami’ dan Hasyiahnya, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 117

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar