Iman pada istilah syara’ sebagaimana didevinisikan oleh Ibrahim
al-Bajuri adalah:
التصديق بجميع ما جأء به النبي مما علم من الدين بالضرورة اجمالا في
الاجمالي وتفصيلا في التفصيلي
Membenarkan semua berita yang datangkan oleh Nabi yang dimaklumi
dari agama secara mudah, secara garis besarnya dalam hal perkara-perkara yang
dapat dipahami secara garis besar dan secara terperinci dalam hal
perkara-perkara yang dapat dipahami secara terperinci.(Tuhfah al-Muriid ‘ala
Jauharah al-Tauhid: 92)
Yang mirip dengan ini, devinisi yang dikemukakan oleh Syeikh
al-Shawi, seorang ulama mazhab Maliki, yaitu:
تصديق النبي صلعم في ما جأء به مما علم من الدين ضرورة كالصلاة و الصيام والزكاة والحج
Membenarkan Nabi SAW pada semua yang didatangkannya dari
perkara-perkara yang dimaklumi dari agama secara mudah seperti shalat, puasa,
zakat dan haji. (Syarah al-Shawi ‘ala Jauharah al-Tauhid: 130)
Maksud dari tashdiq Nabi dalam dua devinisi di atas adalah tunduk (iz’an)
dan menerima segala sesuatu yang datang dari Nabi SAW baik itu tentang
ketuhanan, sam’iyyat, dan hukum syariat yang berisi perkara wajib, haram,
sunnah, makruh, dan mubah. Ibrahim al-Bajuri mengatakan,
والمراد بتصديق النبي في ذالك
الاذعان لما جاء به والقبول به
Yang dimaksud dengan tashdiq nabi dalam hal
itu adalah tunduk kepada berita yang didatangkan Nabi dan menerimanya.
Kemudian Ibrahim al-Bajuri melanjutkan, bukan
maksudnya terjadi pembenaran dalam hati tanpa iz’an (tunduk) dan menerimanya.
Karena itu, sebagian orang-orang kafir yang mengetahui dan mengakui kebenaran
kenabian dan risalah Nabi Muhammad SAW, akan tetapi mereka tidak menerima dan
tunduk kepada berita yang datang dari Nabi SAW, maka mereka ini tetap dihukum
tidak beriman, sebagaimana tergambar dalam firman Allah berikut ini:
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ
يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ
لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Orang-orang yang telah Kami anugerahi Kitab (Taurat dan Injil)
mengenalnya (Nabi Muhammad) seperti
mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sekelompok dari mereka
pasti menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka mengetahui(-nya).(Q.S.
al-Baqarah: 146) (Tuhfah al-Muriid ‘ala Jauharah
al-Tauhid: 91)
Maksud dimaklumi dari agama secara mudah adalah iman itu ditandai
dengan membenarkan perkara-perkara yang mudah diketahui oleh umum dan khusus
manusia. Adapun tidak mengimani perkara-perkara yang susah dan rumit dipahami
seperti wujud Allah apakah merupakan zat Allah atau lain zat Allah, maka itu
tidak menggugurkan iman seseorang.
Dua devinisi di atas mewakili pendapat ulama yang mengatakan, bahwa
mengucap dua kalimat syahadat tidak termasuk dalam makna iman.
Ibrahim al-Bajuri menjelaskan kepada kita, ummat Islam berbeda
pendapat dalam memaknai iman. Kalangan muhaqqiq dari al-Asy’ariyah,
al-Maturidiyah dan lainnya berpendapat bahwa mengucap dua kalimat syahadat
merupakan syarat iman, tidak termasuk dalam makna (mahiyah) iman. Jumhur ulama
sesudah mereka memaknai syarat di sini dengan makna syarat memberlakukan hukum
duniawi seperti kewarisan, pernikahan, mengimami shalat, mengebumikan dalam
perkuburan muslimin, tuntutan melaksanakan shalat, membayarkan zakat dan
lain-lain, karena iman merupakan tashdiq yang tersembunyi dalam hati.
Karenanya, harus ada tanda dhahir yang menjadi petunjuk adanya iman.
Mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan tanda dhahir sebagai tempat
bergantung perberlakukan hukum duniawiyah seperti kewarisan, pernikahan dan lain-lain.
Berdasarkan pendapat ini, al-Bajuri mengatakan:
فمن صدق بقلبه ولم يقر بلسانه لا لعذر منعه
ولا لاباء بل اتفق له ذلك فهو مؤمن عند الله غير مؤمن في الاحكام الدنيوية
maka seseorang yang mentashdiqkan dalam hatinya kebenaran
berita-berita dari Nabi SAW, akan tetapi tidak mengikrar dengan lidahnya bukan
karena keuzuran yang menghalanginya dan bukan pula karena keengganannya tetapi
terjadi secara ittifaqi (kebetulan), maka dia mukmin di sisi Allah dan bukan
mukmin pada hukum duniawi.
اما المعذور اذا قامت قرينة على اسلامه بغير
النطق كالاشارة فهو مؤمن فيهما واما الابي بأن طلب منه النطق
بالشهادتين فأبى فهو كافر فيهما ولو اذعن في قلبه فلا ينفعه ذلك ولو في الأخرة
Adapun orang-orang ‘uzur, apabila ada qarinah (petunjuk) keislamannya
dalam bentuk bukan ucapan seperti isyarah, maka dia mukmin pada hukum dunia dan
akhirat. Adapun orang yang enggan yakni pada saat diminta mengucapkan dua
syahadat, dia enggan mengucapkannya, maka dia kafir pada hukum dunia dan
akhirat walaupun menerima dalam hatinya, maka tidak tidak ada manfaat hal itu
meskipun hanya di akhirat.
Sebagian kecil ulama memahami bahwa
mengucap dua syahadat merupakan syarat iman dengan makna pengucapan dua
syahadat merupakan syarat sah iman, bukan syarat perberlakukan hukum duniawiyah
sebagaimana pendapat jumhur di atas. Dengan demikian, berdasarkan pendapat ini,
tanpa ikrar dua kalimat syahadat, maka iman seseorang tidak sah, karena tidak
ada syaratnya. Menurut Ibrahim al-Bajuri, pendapat jumhur merupakan pendapat
yang rajih.
Pendapat yang ketiga, pendapat yang
dikemukakan Mu’tazilah. Menurut kaum Mu’tazilah amal merupakan bagian dari
iman. Mereka berpendapat iman adalah kumpulan dari amal, pengucapan syahadat
dan i’tiqad. Karena itu, siapa saja yang meninggalkan amal, maka dia bukan
mukmin karena tidak wujud amal yang merupakan bagian iman dan juga bukan kafir
karena wujud tashdiq, akan tetapi keberadaannya dalam suatu tempat manzilatan
baina manzilatain (tempat antara surga dan neraka). Sesuai dengan pendapat
mu’tazilah ini, maka seseorang yang tidak mengucap dua syahadat tidak termasuk
orang yang beriman. (Lihat: Tuhfah al-Muriid ‘ala Jauharah al-Tauhid: 94-95).
Mengomentari penjelasan Imam al-Sanusi dalam Kitab Umm al-Barahiin,
al-Dusuqi menyimpulkan:
حاصل ما ذكره الشارح أن الأقوال فيه ثلاثة: فقيل: إن النطق بالشهادتين شرط
في صحته خارج عن ماهيته، وقيل: إنه شطر أي جزء من حقيقة الإيمان، فالإيمان مجموع
التصديق القلبي والنطق بالشهادتين، وقيل: ليس شرطا في صحته ولا جزءا من مفهومه بل
هو شرط لإجراء الأحكام الدنيوية وهو المعتمد، وعليه فمن صدق بقلبه ولم ينطق
بالشهادتين سواء كان قادرا على النطق أو كان عاجزا عنه فهو مؤمن عند الله يدخل
الجنة وإن كانت لا تجري عليه الأحكام الدنيوية من غسل وصلاة عليه ودفن في مقابر
المسلمين ولا ترثه ورثته المسلمون، فقول الشارح هذا هو المشهور غير مسلم بل هذا
ضعيف.
Kesimpulan dari yang telah disebut oleh
pensyarah (Imam al-Sanusi) bahwa ada
tiga pendapat tentang pengucapan dua syahadat: Pendapat pertama mengatakan, mengucapkan
dua syahadat merupakan syarat sah iman dan keluar dari mahiyah iman (makna iman).
Pendapat kedua, mengucap dua syahadat merupakan bagian dari hakikat iman. Maka iman
itu adalah kumpulan dari tashdiq dalam hati dan pengucapan dua syahadat. Pendapat
ketiga, pengucapan dua syahadat bukanlah syarat sah iman dan bukan juga bagian
dari mafhum iman, akan tetapi merupakan syarat bagi pemberlakuan hukum duniawiyah.
Pendapat yang terakhir ini merupakan pendapat mu’tamad (pendapat kuat). Berdasarkan
pendapat ini, siapa saja yang membenarkan dalam hatinya tapi tidak disertai
mengucap dua syahadat, baik dia mampu mengucapkannya atau lemah darinya, maka
dia mukmin di sisi Allah dan akan masuk surga, meskipun tidak berlaku atasnya
hukum-hukum duniawiyah seperti mandi, shalat jenazah atasnya, dikebumikan dalam
perkuburan muslimin dan tidak mewarisinya oleh ahli warisnya yang muslim. Berdasarkan
ini, maka perkataan pensyarah “Pendapat ini adalah masyhur” tidak dapat
diterima, bahkan pendapat tersebut adalah dhaif. (Yakni perkataan pensyarah: Mengucap
dua syahadat menjadi syarat sah iman si kafir dalam keadaan mampu mengucapkannya).
(Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Umm al-Barahiin: 226)
Sesuai dengan penjelasan al-Dusuqi yang
mempedomani kepada pendapat yang dianggap mu’tamad oleh beliau di atas, maka orang
kafir yang membenarkan dalam hatinya tapi tidak disertai mengucap dua syahadat dapat
dihukum sah imannya meskipun dia mampu mengucapkannya selama dia tidak enggan
mengucapkannya apabila diminta. Pendapat al-Dusuqi ini sesuai juga dengan
pendapat yang dinisbahkan kepada jumhur ulama oleh Ibrahim al-Bajuri di atas. Berbeda
dengan pendapat ini, Imam al-Sanusi berpendapat mengucapkan dua syahadat
merupakan syarat sah iman bagi orang kafir. Dalam Umm al-Barahiin, beliau
mengatakan,
فاعلم أن الناس على ضربين مؤمن وكافر، أما المؤمن بالأصالة فيجب عليه أن
يذكرها مرة في العمر، ينوى في تلك المرة بذكرها الوجوب، وإن ترك ذلك فهو عاص،
وإيمانه صحيح والله أعلم.
Maka ketahuilah sesungguhnya manusia terbagi dua, yaitu mukmin dan
kafir. Adapun yang asalnya mukmin, maka wajib atasnya menyebutnya (dua
syahadat) satu kali selama umurnya dengan niat wajib menyebutnya dan jika meninggalkannya,
maka dia akan menjadi pelaku maksiat, akan tetapi imannya shahih, wallahua’lam.
Kemudian beliau melanjutkan,
وأما الكافر فذكره لهذه الكلمة واجبٌ شرطٌ في صحة إيمانه القلبي مع القدرة،
وإن عجز عنها بعد حصول إيمانه القلبي لمفاجأة الموت له ونحو ذلك سقط عنه الوجوب،
وكان مؤمناً، هذا هو المشهور من مذهب العلماء أهل السنة.
Adapun orang kafir, maka menyebut kalimat ini (dua syahadat) adalah
wajib dan syarat sah imannya yang bersifat qalbi dalam keadaan kuasa. Tetapi jika
lemah mengucapkannya sesudah ada imannya yang bersifat qalbi karena tiba-tiba
muncul kematian baginya atau penyebab lainnya, maka gugur kewajiban mengucapkannya
dan dia adalah mukmin. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur mazhab
ulama Ahlussunnah. (Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Umm al-Barahiin: 225-226)
Kewajiban orang kafir mengucapkan dua syahadat ini sehingga tidak sah
imannya tanpa mengucapkan dua syahadat juga merupakan pendapat yang menjadi
pegangan Syeikh al-Shawi. (Syarah al-Shawi ‘ala Jauharah al-Tauhid: 133)
Kesimpulan
Umat Islam berbeda pendapat mengenai pengucapan dua syahadat sebagai
keabsahan iman seseorang, yaitu sebagai berikut:
1. Pendapat pertama; mengucap dua kalimat syahadat merupakan syarat iman,
tidak termasuk dalam makna (mahiyah) iman. Ini merupakan pendapat muhaqqiq dari
al-Asy’ariyah, al-Maturidiyah dan lainnya. Pengikut pendapat ini terbelah dua
kelompok dalam memahami sebagai syarat iman. Jumhur ulama sesudah mereka
memaknai syarat di sini dengan makna syarat memberlakukan hukum duniawi seperti
kewarisan, pernikahan, mengimami shalat, mengebumikan dalam perkuburan Muslimin
dan lain-lain. Pendapat ini dihukum mu’tamad oleh al-Dusuqi dan dinilai rajih
oleh Ibrahim al-Bajuri sebagaimana dikemukakan di atas. Sedangkan kelompok lain
berpendapat mengucap dua syahadat merupakan syarat sah iman, bukan hanya
sebatas syarat perberlakukan hukum duniawiyah sebagaimana pendapat jumhur di
atas.
2. Pendapat kedua, mengucap dua syahadat merupakan bagian dari hakikat
iman. Maka iman itu adalah kumpulan dari tashdiq dalam hati dan pengucapan dua
syahadat. Pendapat ini merupakan pendapat yang dikemukakan oleh golongan mazhab
Hanafi. Karenanya, dalam Matan Aqidah al-Thahawiyah (sebuah kitab Aqidah yang
sangat populer dari kalangan mazhab Hanafi) disebutkan:
والايمان هو الاقرار باللسان و التصديق بالجنان
Iman adalah ikrar dengan lidah dan tashdiq dengan hati (Matan Aqidah al-Thahawiyah:
21)
Berdasarkan
pendapat ini, tanpa mengucap dua syahadat, maka tidak sah imannya.
3. Pendapat ketiga merupakan pendapat mu’tazilah; iman adalah kumpulan dari
amal, ucapan syahadat dan i’tiqad. Karena itu, siapa saja yang meninggalkan pengucapan
syahadat atau amal, maka dia bukan mukmin dan juga bukan kafir karena ada wujud
tashdiq, akan tetapi keberadaannya dalam suatu tempat manzilatan baina
manzilatain (tempat antara surga dan neraka).
Wallahua’lam bisshawab