Minggu, 01 Februari 2026

Mengucap dua kalimat syahadat apakah syarat iman?

 

Iman pada istilah syara’ sebagaimana didevinisikan oleh Ibrahim al-Bajuri adalah:

التصديق بجميع ما جأء به النبي مما علم من الدين بالضرورة اجمالا في الاجمالي وتفصيلا في التفصيلي

Membenarkan semua berita yang datangkan oleh Nabi yang dimaklumi dari agama secara mudah, secara garis besarnya dalam hal perkara-perkara yang dapat dipahami secara garis besar dan secara terperinci dalam hal perkara-perkara yang dapat dipahami secara terperinci.(Tuhfah al-Muriid ‘ala Jauharah al-Tauhid: 92)

 

Yang mirip dengan ini, devinisi yang dikemukakan oleh Syeikh al-Shawi, seorang ulama mazhab Maliki, yaitu:

تصديق النبي صلعم في ما جأء به مما علم من الدين ضرورة كالصلاة و الصيام والزكاة والحج

Membenarkan Nabi SAW pada semua yang didatangkannya dari perkara-perkara yang dimaklumi dari agama secara mudah seperti shalat, puasa, zakat dan haji. (Syarah al-Shawi ‘ala Jauharah al-Tauhid: 130)

 

Maksud dari tashdiq Nabi dalam dua devinisi di atas adalah tunduk (iz’an) dan menerima segala sesuatu yang datang dari Nabi SAW baik itu tentang ketuhanan, sam’iyyat, dan hukum syariat yang berisi perkara wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Ibrahim al-Bajuri mengatakan,

والمراد بتصديق النبي في ذالك الاذعان لما جاء به والقبول به

Yang dimaksud dengan tashdiq nabi dalam hal itu adalah tunduk kepada berita yang didatangkan Nabi dan menerimanya.

 

Kemudian Ibrahim al-Bajuri melanjutkan, bukan maksudnya terjadi pembenaran dalam hati tanpa iz’an (tunduk) dan menerimanya. Karena itu, sebagian orang-orang kafir yang mengetahui dan mengakui kebenaran kenabian dan risalah Nabi Muhammad SAW, akan tetapi mereka tidak menerima dan tunduk kepada berita yang datang dari Nabi SAW, maka mereka ini tetap dihukum tidak beriman, sebagaimana tergambar dalam firman Allah berikut ini:

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Orang-orang yang telah Kami anugerahi Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Nabi Muhammad)  seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sekelompok dari mereka pasti menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka mengetahui(-nya).(Q.S. al-Baqarah: 146) (Tuhfah al-Muriid ‘ala Jauharah al-Tauhid: 91)

Maksud dimaklumi dari agama secara mudah adalah iman itu ditandai dengan membenarkan perkara-perkara yang mudah diketahui oleh umum dan khusus manusia. Adapun tidak mengimani perkara-perkara yang susah dan rumit dipahami seperti wujud Allah apakah merupakan zat Allah atau lain zat Allah, maka itu tidak menggugurkan iman seseorang.

Dua devinisi di atas mewakili pendapat ulama yang mengatakan, bahwa mengucap dua kalimat syahadat tidak termasuk dalam makna iman.

Ibrahim al-Bajuri menjelaskan kepada kita, ummat Islam berbeda pendapat dalam memaknai iman. Kalangan muhaqqiq dari al-Asy’ariyah, al-Maturidiyah dan lainnya berpendapat bahwa mengucap dua kalimat syahadat merupakan syarat iman, tidak termasuk dalam makna (mahiyah) iman. Jumhur ulama sesudah mereka memaknai syarat di sini dengan makna syarat memberlakukan hukum duniawi seperti kewarisan, pernikahan, mengimami shalat, mengebumikan dalam perkuburan muslimin, tuntutan melaksanakan shalat, membayarkan zakat dan lain-lain, karena iman merupakan tashdiq yang tersembunyi dalam hati. Karenanya, harus ada tanda dhahir yang menjadi petunjuk adanya iman. Mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan tanda dhahir sebagai tempat bergantung perberlakukan hukum duniawiyah seperti kewarisan, pernikahan dan lain-lain. Berdasarkan pendapat ini, al-Bajuri mengatakan:

فمن صدق بقلبه ولم يقر بلسانه لا لعذر منعه ولا لاباء بل اتفق له ذلك فهو مؤمن عند الله غير مؤمن في الاحكام الدنيوية

maka seseorang yang mentashdiqkan dalam hatinya kebenaran berita-berita dari Nabi SAW, akan tetapi tidak mengikrar dengan lidahnya bukan karena keuzuran yang menghalanginya dan bukan pula karena keengganannya tetapi terjadi secara ittifaqi (kebetulan), maka dia mukmin di sisi Allah dan bukan mukmin pada hukum duniawi.

 

اما المعذور اذا قامت قرينة على اسلامه بغير النطق كالاشارة فهو مؤمن فيهما واما الابي بأن طلب منه النطق بالشهادتين فأبى فهو كافر فيهما ولو اذعن في قلبه فلا ينفعه ذلك ولو في الأخرة

Adapun orang-orang ‘uzur, apabila ada qarinah (petunjuk) keislamannya dalam bentuk bukan ucapan seperti isyarah, maka dia mukmin pada hukum dunia dan akhirat. Adapun orang yang enggan yakni pada saat diminta mengucapkan dua syahadat, dia enggan mengucapkannya, maka dia kafir pada hukum dunia dan akhirat walaupun menerima dalam hatinya, maka tidak tidak ada manfaat hal itu meskipun hanya di akhirat.

 

Sebagian kecil ulama memahami bahwa mengucap dua syahadat merupakan syarat iman dengan makna pengucapan dua syahadat merupakan syarat sah iman, bukan syarat perberlakukan hukum duniawiyah sebagaimana pendapat jumhur di atas. Dengan demikian, berdasarkan pendapat ini, tanpa ikrar dua kalimat syahadat, maka iman seseorang tidak sah, karena tidak ada syaratnya. Menurut Ibrahim al-Bajuri, pendapat jumhur merupakan pendapat yang rajih.

Pendapat yang ketiga, pendapat yang dikemukakan Mu’tazilah. Menurut kaum Mu’tazilah amal merupakan bagian dari iman. Mereka berpendapat iman adalah kumpulan dari amal, pengucapan syahadat dan i’tiqad. Karena itu, siapa saja yang meninggalkan amal, maka dia bukan mukmin karena tidak wujud amal yang merupakan bagian iman dan juga bukan kafir karena wujud tashdiq, akan tetapi keberadaannya dalam suatu tempat manzilatan baina manzilatain (tempat antara surga dan neraka). Sesuai dengan pendapat mu’tazilah ini, maka seseorang yang tidak mengucap dua syahadat tidak termasuk orang yang beriman. (Lihat: Tuhfah al-Muriid ‘ala Jauharah al-Tauhid: 94-95).

Mengomentari penjelasan Imam al-Sanusi dalam Kitab Umm al-Barahiin, al-Dusuqi menyimpulkan:

حاصل ما ذكره الشارح أن الأقوال فيه ثلاثة: فقيل: إن النطق بالشهادتين شرط في صحته خارج عن ماهيته، وقيل: إنه شطر أي جزء من حقيقة الإيمان، فالإيمان مجموع التصديق القلبي والنطق بالشهادتين، وقيل: ليس شرطا في صحته ولا جزءا من مفهومه بل هو شرط لإجراء الأحكام الدنيوية وهو المعتمد، وعليه فمن صدق بقلبه ولم ينطق بالشهادتين سواء كان قادرا على النطق أو كان عاجزا عنه فهو مؤمن عند الله يدخل الجنة وإن كانت لا تجري عليه الأحكام الدنيوية من غسل وصلاة عليه ودفن في مقابر المسلمين ولا ترثه ورثته المسلمون، فقول الشارح هذا هو المشهور غير مسلم بل هذا ضعيف.

Kesimpulan dari yang telah disebut oleh pensyarah (Imam al-Sanusi)  bahwa ada tiga pendapat tentang pengucapan dua syahadat: Pendapat pertama mengatakan, mengucapkan dua syahadat merupakan syarat sah iman dan keluar dari mahiyah iman (makna iman). Pendapat kedua, mengucap dua syahadat merupakan bagian dari hakikat iman. Maka iman itu adalah kumpulan dari tashdiq dalam hati dan pengucapan dua syahadat. Pendapat ketiga, pengucapan dua syahadat bukanlah syarat sah iman dan bukan juga bagian dari mafhum iman, akan tetapi merupakan syarat bagi pemberlakuan hukum duniawiyah. Pendapat yang terakhir ini merupakan pendapat mu’tamad (pendapat kuat). Berdasarkan pendapat ini, siapa saja yang membenarkan dalam hatinya tapi tidak disertai mengucap dua syahadat, baik dia mampu mengucapkannya atau lemah darinya, maka dia mukmin di sisi Allah dan akan masuk surga, meskipun tidak berlaku atasnya hukum-hukum duniawiyah seperti mandi, shalat jenazah atasnya, dikebumikan dalam perkuburan muslimin dan tidak mewarisinya oleh ahli warisnya yang muslim. Berdasarkan ini, maka perkataan pensyarah “Pendapat ini adalah masyhur” tidak dapat diterima, bahkan pendapat tersebut adalah dhaif. (Yakni perkataan pensyarah: Mengucap dua syahadat menjadi syarat sah iman si kafir dalam keadaan mampu mengucapkannya). (Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Umm al-Barahiin: 226)

 

Sesuai dengan penjelasan al-Dusuqi yang mempedomani kepada pendapat yang dianggap mu’tamad oleh beliau di atas, maka orang kafir yang membenarkan dalam hatinya tapi tidak disertai mengucap dua syahadat dapat dihukum sah imannya meskipun dia mampu mengucapkannya selama dia tidak enggan mengucapkannya apabila diminta. Pendapat al-Dusuqi ini sesuai juga dengan pendapat yang dinisbahkan kepada jumhur ulama oleh Ibrahim al-Bajuri di atas. Berbeda dengan pendapat ini, Imam al-Sanusi berpendapat mengucapkan dua syahadat merupakan syarat sah iman bagi orang kafir. Dalam Umm al-Barahiin, beliau mengatakan,

فاعلم أن الناس على ضربين مؤمن وكافر، أما المؤمن بالأصالة فيجب عليه أن يذكرها مرة في العمر، ينوى في تلك المرة بذكرها الوجوب، وإن ترك ذلك فهو عاص، وإيمانه صحيح والله أعلم.

Maka ketahuilah sesungguhnya manusia terbagi dua, yaitu mukmin dan kafir. Adapun yang asalnya mukmin, maka wajib atasnya menyebutnya (dua syahadat) satu kali selama umurnya dengan niat wajib menyebutnya dan jika meninggalkannya, maka dia akan menjadi pelaku maksiat, akan tetapi imannya shahih, wallahua’lam.

 

Kemudian beliau melanjutkan,

وأما الكافر فذكره لهذه الكلمة واجبٌ شرطٌ في صحة إيمانه القلبي مع القدرة، وإن عجز عنها بعد حصول إيمانه القلبي لمفاجأة الموت له ونحو ذلك سقط عنه الوجوب، وكان مؤمناً، هذا هو المشهور من مذهب العلماء أهل السنة.

Adapun orang kafir, maka menyebut kalimat ini (dua syahadat) adalah wajib dan syarat sah imannya yang bersifat qalbi dalam keadaan kuasa. Tetapi jika lemah mengucapkannya sesudah ada imannya yang bersifat qalbi karena tiba-tiba muncul kematian baginya atau penyebab lainnya, maka gugur kewajiban mengucapkannya dan dia adalah mukmin. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur mazhab ulama Ahlussunnah. (Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Umm al-Barahiin: 225-226)

 

Kewajiban orang kafir mengucapkan dua syahadat ini sehingga tidak sah imannya tanpa mengucapkan dua syahadat juga merupakan pendapat yang menjadi pegangan Syeikh al-Shawi. (Syarah al-Shawi ‘ala Jauharah al-Tauhid: 133)

Kesimpulan

Umat Islam berbeda pendapat mengenai pengucapan dua syahadat sebagai keabsahan iman seseorang, yaitu sebagai berikut:

1.  Pendapat pertama; mengucap dua kalimat syahadat merupakan syarat iman, tidak termasuk dalam makna (mahiyah) iman. Ini merupakan pendapat muhaqqiq dari al-Asy’ariyah, al-Maturidiyah dan lainnya. Pengikut pendapat ini terbelah dua kelompok dalam memahami sebagai syarat iman. Jumhur ulama sesudah mereka memaknai syarat di sini dengan makna syarat memberlakukan hukum duniawi seperti kewarisan, pernikahan, mengimami shalat, mengebumikan dalam perkuburan Muslimin dan lain-lain. Pendapat ini dihukum mu’tamad oleh al-Dusuqi dan dinilai rajih oleh Ibrahim al-Bajuri sebagaimana dikemukakan di atas. Sedangkan kelompok lain berpendapat mengucap dua syahadat merupakan syarat sah iman, bukan hanya sebatas syarat perberlakukan hukum duniawiyah sebagaimana pendapat jumhur di atas.

2.  Pendapat kedua, mengucap dua syahadat merupakan bagian dari hakikat iman. Maka iman itu adalah kumpulan dari tashdiq dalam hati dan pengucapan dua syahadat. Pendapat ini merupakan pendapat yang dikemukakan oleh golongan mazhab Hanafi. Karenanya, dalam Matan Aqidah al-Thahawiyah (sebuah kitab Aqidah yang sangat populer dari kalangan mazhab Hanafi) disebutkan:

والايمان هو الاقرار باللسان و التصديق بالجنان

Iman adalah ikrar dengan lidah dan tashdiq dengan hati (Matan Aqidah al-Thahawiyah: 21)

Berdasarkan pendapat ini, tanpa mengucap dua syahadat, maka tidak sah imannya.

3.  Pendapat ketiga merupakan pendapat mu’tazilah; iman adalah kumpulan dari amal, ucapan syahadat dan i’tiqad. Karena itu, siapa saja yang meninggalkan pengucapan syahadat atau amal, maka dia bukan mukmin dan juga bukan kafir karena ada wujud tashdiq, akan tetapi keberadaannya dalam suatu tempat manzilatan baina manzilatain (tempat antara surga dan neraka).

Wallahua’lam bisshawab

Sabtu, 17 Januari 2026

Menyambut Bulan Sya’ban

 

Bulan Sya’ban sudah di depan mata. Umat Islam kini mulai menyambut bulan kedelapan kalender Hijriah itu dengan suka cita. Sebab, bulan Sya’ban menandai semakin dekatnya bulan suci Ramadhan. Rasulullah SAW sering memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban dan menjadikan bulan tersebut sebagai waktu yang penuh berkah untuk meningkatkan keimanan. Sya’ban adalah bulan di mana amal manusia diangkat ke langit. Nabi SAW bersabda:

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Sya’ban adalah bulan laporan amal kepada Tuhan sekalian alam. Maka saya senang amal saya dilaporkan, sementara saya dalam keadaan berpuasa. (H.R.  al-Nisa’i dan Abu Daud).

 

Ibnu Khuzaimah menyatakan hadits ini shahih dari Usamah bin Zaid.(Fathulbarri: IV/215). Menurut Ibnu Hajar, laporan amal pada bulan Sya’ban tersebut terjadi pada malam nisfu Sya’ban. Dalam al-Bujairumi ‘ala Fathul Wahab disebut:

وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ: أَعْمَالُ الْأُسْبُوعِ إجْمَالًا يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ وَأَعْمَالُ الْعَامِ إجْمَالًا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةَ الْقَدْرِ وَأَمَّا عَرْضُهَا تَفْصِيلًا فَبِرَفْعِ الْمَلَائِكَةِ لَهَا بِاللَّيْلِ مَرَّةً وَبِالنَّهَارِ مَرَّةً

Ibnu Hajar mengatakan, amalan mingguan secara garis besar diangkat pada hari Senin dan Kamis, amalan satu tahun secara garis besar diangkat pada malam nisfu Sya’ban dan malam qadar. Adapun memunculkannya secara rinci, malaikat mengangkatnya pada malam sekali dan pada siang sekali. (al-Bujairumi ‘ala Fathul Wahab: II/89)

 

Sesuai dengan hadits di atas, sangat dianjurkan berpuasa pada bulan ini. Anjuran puasa pada Bulan Sya’ban juga dapat dilihat berdasarkan hadits ‘Aisyah r.a berbunyi:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ؛ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ. وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

Rasulullah SAW sering berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berbuka’; beliau juga sering tidak berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berpuasa’; aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan; dan aku tidak pernah melihat beliau dalam sebulan (selain Ramadhan) berpuasa yang lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban. (Muttafaqun ‘alaihi)

 

Namun demikian ada hadits yang melarang berpuasa pada pertengahan kedua Bulan Sya’ban. Nabi SAW bersabda:

اذا انتصف شعبان فلا صوم حتى رمضان

Apabila Bulan Sya’ban sudah separuhnya, maka tidak ada puasa sehingga datang Ramadhan. (H.R. Ahmad, al-Darimiy, dan Sunan yang empat)

 

Hadits ini telah dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Abu ‘Uwaanah. (al-Maqashid al-Hasanah, karya al-Shakhawiy: I/81). Dhahir hadits ini tidak boleh lagi ada puasa (haram) pada pertengahan kedua Bulan Ramadhan. Namun para ulama mempertempatkan keharamannya ini apabila puasanya itu tidak bersambung dengan puasa hari sebelumnya atau puasanya itu bukan puasa pada hari di mana seseorang memang sudah terbiasa (ber’adat) berpuasa pada hari tersebut ataupun puasa tersebut bukan merupakan puasa nazar atau qadha. Zainuddin al-Mallibari mengatakan,

وكذ بعد نصف شعبان، ما لم يصله بما قبله، أو لم يوافق عادته، أو لم يكن عن نذر أو قضاء، ولو عن نفل.

Demikian juga diharamkan puasa setelah pertengahan Sya’ban selama tidak bersambung dengan hari puasa sebelumnya atau tidak bersesuaian dengan kebiasaan puasanya ataupun puasanya itu bukanlah puasa nazar atau qadha, meskipun qadha dari puasa sunnah.(I’anah al-Thalibin ‘ala Fathul Mu’in: II/309)

 

Menghidupkan malam nisfu Sya’ban

Malam nisfu Sya’ban malam rahmat dan keampunan. Malam nisfu Sya’ban adalah malam ke-15 Bulan Sya’ban. Pada malam ini, Allah akan mengampuni dosa-dosa makhluknya kecuali orang-orang musyrik dan yang suka menyebar kebencian sesama. Nabi SAW bersabda:

يطلع الله الى جميع خلقه فِي ‌لَيْلَة ‌النّصْف ‌من شعْبَان فَيغْفر لجَمِيع خلقه إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَو مُشَاحِن

Allah memperhatikan semua makhluk-Nya (dengan penuh rahmat) pada malam nisfu Sya’ban. Kemudian Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang-musyrik dan yang suka menyebarkan kebencian. (H.R. al-Thabraniy dalam al-Kabir dan al-Aushath, rijalnya terpercaya)

Hadits serupa ini juga telah diriwayat oleh al-Bazar dan Ahmad. (al-Majma’ al-Zawaid: VIII/65). Sesuai dengan hadits ini tidak heran kalau Imam Syafi’i sebagaimana dinukil oleh al-Baihaqi berpendapat nisfu Sya’ban termasuk malam mustajabah do’a. Dalam kitab hadits al-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi mengatakan,

قال الشّافِعِىُّ وبَلَغَنا أنَّه كان يُقالُ: إنَّ الدُّعاءَ يُستَجابُ في خَمسِ لَيالٍ؛ في لَيلَةِ الجُمُعَةِ، ولَيلَةِ الأضحَى، ولَيلَةِ الفِطرِ، وأَوَّلِ لَيلَةِ مِن رَجَبٍ، ولَيلَةِ ‌النِّصفِ ‌مِن ‌شَعبانَ.

Imam Syafi’i mengatakan, telah sampai kepada kami bahwa dikatakan, sesungguhnya doa mustajabah pada lima malam, yaitu pada malam Jum’at, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya Fitri, awal malam Rajab dan malam nisfu Sya’ban. (al-Sunan al-Kubraa: VI/627)

 

Karena itu dianjurkan menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan memperbanyak ibadah, zikir dan doa. Dalam Hasyiah Qalyubi disebut:

‌يُنْدَبُ ‌إحْيَاءُ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ بِذِكْرٍ أَوْ صَلَاةٍ وَأَوْلَاهَا صَلَاةُ التَّسْبِيحِ. وَيَكْفِي مُعْظَمُهَا وَأَقَلُّهُ صَلَاةُ الْعِشَاءِ فِي جَمَاعَةٍ، وَالْعَزْمُ عَلَى صَلَاةِ الصُّبْحِ كَذَلِكَ. وَمِثْلُهُمَا لَيْلَةُ نِصْفِ شَعْبَانَ، وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ لِأَنَّهَا مَحَالُّ إجَابَةِ الدُّعَاءِ.

Dianjurkan menghidupkan malam dua hari raya (hari raya ‘Idil Fitri dan ‘Idil Adha) dengan berzikir atau shalat. Yang lebih utama adalah shalat tasbih, memadai mu’dhamnya. Sekurang-kurangnya shalat ‘Isya berjamaah dan merencanakan melakukan shalat Subuh seperti itu juga. Sama dengannya malam nisfu Sya’ban, awal malam Bulan Rajab dan malam Jumat. Karena itu merupakan tempat ijabah do’a. (Hasyiah Qayubi: I/359)

 

Berdasarkan keterangan di atas, memperbanyak ibadah seperti shalat sunnah mutlaq , shalat tasbih, zikir dan lain-lain pada malam nisfu Sya’ban tanpa qashad sebagai ibadah khusus disyariatkan pada malam nisfu Sya’ban, akan tetapi juga diqashadkan sebagai amalan sunnah pada malam lainnya sebagaimana halnya pada malam nisfu Sya’ban, namun lebih diperhatikan pada malam nisfu Sya’ban karena malam ijabah doa, maka ini termasuk amalan yang diridhai syariat.

Adapun melakukan ibadah tertentu dengan kaifiat tertentu dengan qashad disyariatkan secara khusus pada malam nisfu Sya’ban termasuk amalan bid’ah tercela. Karena tidak datang nash syara’ secara khusus disunnahkan amalan tertentu pada malam nisfu Sya’ban. Karena itu, Imam al-Subkiy mengatakan,

أن ما لم يرد فيه الا مطلق طلب الصلاة وأنها خير موضوع فلا يطلب منه شيء بخصوصه فمتى خص شيأ منه بزمان او مكان او نحو ذالك دخل في قسم البدعة وانما المطلوب منه عمومه فيفعل لما من العموم لا لكونه مطلوبا بالخصوص

Sesungguhnya selama tidak datang kecuali mutlaq tuntuntan shalat dan sesungguhnya itu sebaik-baik pensyariatan, maka tidak dituntut darinya sesuatu secara khusus. Karena itu, kapan saja mengkhususnya dengan zaman, tempat atau lainnya, maka itu termasuk dalam katagori bid’ah. Sesungguhnya yang dituntut darinya adalah keumumannya, maka dilakukannya karena keumumannya, bukan karena keadaannya tuntutan secara khusus (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, karya Ibnu Hajar al-Haitamiy: II/80)

 

Berdasarkan ini, melakukan shalat malam nisfu Sya’ban termasuk bid’ah tercela karena tidak didukung hadits shahih atau hasan. Adapun hadits-hadits yang didakwa sebagai dalilnya adalah hadits maudhu’ (palsu). Dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Imam al-Nawawi mengatakan,

الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلى بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة ‌نصف ‌شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب وإحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فإن كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الأئمة فصنف ورقات في استحبابهما فإنه غالط في ذلك وقد صنف الشيخ الإمام أبو محمد عبد الرحمن بن اسمعيل المقدسي كتابا نفيسا في إبطالهما فأحسن فيه وأجاد رحمه الله

Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib, yaitu dua belas rakat yang dilakukan antara Magrib dan ‘Isya pada malam Jum’at pada Bulan Rajab dan shalat nisfu Sya’ban serratus rakaat, kedua shalat ini adalah bid’ah munkarah yang keji. Jangan tertipu dengan sebab disebut keduanya dalam kitab Quut al-Quluub dan dalam Ihya ‘Ulumuddin dan dengan sebab disebut hadits di dalamnya. Sesungguhnya semua itu adalah bathil. Dan jangan tertipu pula dengan sebab sebagaian orang yang membuat syubhat bahwa hukum keduanya berasal dari imam-imam, maka dikarang risalah unutk menganjurkannya. Sesungguhnya itu suatu kesalahan dalam hal demikian. Sesungguhnya Syeikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail al-Maqdisi telah mengarang sebuah kitab yang berharga dalam membatalkannya, beliau telah banyak menulis yang baik dan bagus di dalamnya. Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau. (Majmu’ Syarah al-Muhazzab: IV/56)

Penjelasan Imam al-Nawawi di atas dipertegaskan kembali oleh Ibnu Hajar al-Haitamiy, seorang ulama yang cukup disegani di kalangan Syafi’iyah yang hidup sesudah al-Nawawi. Dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj beliau mengatakan,

وَالصَّلَاةُ الْمَعْرُوفَةُ لَيْلَةَ الرَّغَائِبِ ‌وَنِصْفِ ‌شَعْبَانَ بِدْعَةٌ قَبِيحَةٌ وَحَدِيثُهَا مَوْضُوعٌ وَبَيْنَ ابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَابْنِ الصَّلَاحِ مُكَاتَبَاتٌ وَإِفْتَاءَاتٌ مُتَنَاقِضَةٌ فِيهَا بَيَّنْتُهَا مَعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهَا فِي كِتَابٍ مُسْتَقِلٍّ سَمَّيْتُهُ الْإِيضَاحَ وَالْبَيَانُ لِمَا جَاءَ فِي لَيْلَتَيْ الرَّغَائِبِ وَالنِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ.

Shalat yang dikenal dengan malam Raghaib dan nisfu Sya’ban adalah bid’ah yang keji. Haditsnya  maudhu’ (palsu). Antara Ibnu ‘Abdissalam dan Ibnu al-Shalah pernah terjadi saling surat menyurat dan menyampaikan fatwa yang saling menyanggah di dalamnya. Sudah pernah aku jelaskannya  dan yang terkait dengannya dalam kitab tersendiri yang aku namakan al-Idhah wa al-Bayan limaa Ja-a fi Lailatai al-Raghaib wa Nisfu min Sya’ban.(Hasyiah Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj: II/239)

 

Puasa nisfu Sya’ban

 

Tidak ada hadits shahih atau hasan yang dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum, yang secara khusus menganjurkan puasa pada siang nisfu Sya’ban. Adapun hadits riwayat Ibnu Majah yang menganjurkan puasa pada siang nisfu Sya’ban adalah dhaif. Redaksi hadits tersebut adalah  Nabi SAW bersabda:

اذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها

Apabila malam nisfu Sya’ban, maka dirikanlah malamnya dan berpuasalah pada siangnya. (H.R. Ibnu Majah)

 

Ibnu Hajar al-Haitamiy mengatakan, hadits ini dha’if. Karena itu, beliau berpendapat berpuasa secara khusus sebagai puasa nisfu Sya’ban tidak boleh, karena tidak didukung oleh hadits yang maqbul.  Akan tetapi dibolehkan dengan qashad sebagai puasa hari putih (hari 13,14 dan 15 pada setiap bulan). Jadi berpuasa dengan niat puasa hari putih yang kebetulan bersamaan dengan nisfu Sya’ban. Penjelasan ini sama dengan melakukan shalat sunnat mutlaq pada malamnya tanpa qashat sebagai shalat khusus pada malam nisfu Sya’ban. Dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubraa, Ibnu Hajar al-Haitamiy mengatakan,

وَأَمَّا ‌صَوْمُ ‌يَوْمِهَا فَهُوَ سُنَّةٌ مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ مِنْ جُمْلَةِ الْأَيَّامِ الْبِيضِ لَا مِنْ حَيْثُ خُصُوصُهُ وَالْحَدِيثُ الْمَذْكُورُ عَنْ ابْنِ مَاجَهْ ضَعِيفٌ

Adapun puasa pada siangnya (siang nisfu Sya’ban) maka adalah sunnah dari sudut pandang puasanya termasuk dalam jumlah puasa hari putih, bukan puasa secara khusus. Sedangkan hadits tersebut (puasa secara khusus nisfu Sya’ban) dari Ibnu Majah adalah dha’if. (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, karya Ibnu Hajar al-Haitamiy: II/80)

 

Pendapat yang sama dikemukakan oleh al-Munawiy. Beliau mengatakan makruh puasa nisfu Sya’ban karena tidak ada dalilnya. (Faidh al-Qadir: II/316)

Khusus mengenai puasa di siang nisfu Sya’ban, Imam al-Ramli berbeda pendapat dengan Ibnu Hajar al-Haitamiy. Imam al-Ramli berpendapat boleh berpuasa khusus nisfu Sya’ban, karena boleh mengamalkan hadits dhaif dalam fadhailul amal. Dalam Fatawa al-Ramli, beliau mengatakan,

يُسَنُّ صَوْمُ ‌نِصْفِ ‌شَعْبَانَ بَلْ يُسَنُّ صَوْمُ ثَالِثَ عَشَرِهِ وَرَابِعَ عَشَرِهِ وَخَامِسَ عَشَرِهِ وَالْحَدِيثُ الْمَذْكُورُ يُحْتَجُّ بِهِ

Disunnahkan puasa nisfu Sya’ban, bahkan disunnahkan puasa tiga belas, empat belas dan lima belas nisfu Sya’ban. Hadits tersebut dapat dijadikan hujjah. (Fatawa al-Ramli: (II/79)

Wallahua’lam bisshawab

Sabtu, 10 Januari 2026

Bolehkah Pengumpulan Donasi di Tengah Jalan?

 

Kegiatan pengumpulan donasi atau sumbangan merupakan bentuk nyata dari amar ma’ruf atau mengajak pada kebaikan dan tolong-menolong dalam taqwa. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai peristiwa, yang menunjukkan betapa pentingnya peran umat dalam membantu sesama. Salah satu momentum paling jelas ditunjukkan hadits riwayat Jarir bin Abdillah ra, ketika datang sekelompok kaum dari Mudhar dalam keadaan miskin, telanjang kaki, berbaju kasar, dan bersenjata, sehingga wajah Rasulullah SAW tampak berubah karena melihat penderitaan mereka. Lalu beliau masuk rumah, keluar kembali, dan memerintahkan Sahabat Bilal untuk azan dan iqamah. Setelah shalat, beliau berkhutbah dengan membaca ayat-ayat tentang ketaqwaan, lalu berseru: 

 تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ، مِنْ دِرْهَمِهِ، مِنْ ثَوْبِهِ، مِنْ صَاعِ بُرِّهِ، مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ، حَتَّى قَالَ: وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ  

Hendaklah seseorang bersedekah dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, satu sha’ gandumnya, satu sha’ kurmanya, bahkan meskipun hanya dengan setengah butir kurma.(H.R Muslim).

 

Berdasarkan hadits tersebut, aktivitas mengumpulkan donasi pada dasarnya merupakan perbuatan yang baik dan bernilai ibadah. Namun disaat kegiatan pengumpulan dana ini dilakukan dengan memanfaatkan badan jalan atau bahkan dilakukan di tengah jalan umum yang berpotensi bahaya bagi pengguna mobil, motor atau lainnya, maka ini perlu kajian hukum fiqh yang konverehensif dengan mempertimbangkan dari berbagai aspek. Untuk menjawab persoalan hukum ini, kita mulai dengan hadits Nabi SAW berbunyi:

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ، فَقَالُوا: مَا لَنَا بُدٌّ، إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا. قَالَ: فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ، فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا، قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ؟ قَالَ: غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الْأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ   ِ

“Jauhilah duduk di jalan-jalan.” Para sahabat berkata: “Kami tidak bisa menghindarinya, karena itu tempat kami berbincang-bincang.” Beliau bersabda, “Jika kalian memang harus duduk di jalan, maka berikan hak jalan.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, memerintahkan kebaikan, dan mencegah kemungkaran. (Muttafaqun ‘alaihi).

 

Dalam mengomentari hadits ini, Imam al-Nawawi mengatakan,

وَيَنْبَغِي أَنْ يُجْتَنَبَ الْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ لِهَذَا الْحَدِيثِ وَيَدْخُلُ فِي كَفِّ الْأَذَى اجْتِنَابُ الْغِيبَةِ وَظَنِّ السُّوءِ وَإِحْقَارِ بَعْضِ الْمَارِّينَ وَتَضْيِيقِ الطَّرِيقِ وَكَذَا إِذَا كَانَ الْقَاعِدُونَ مِمَّنْ يَهَابُهُمُ الْمَارُّونَ أَوْ يَخَافُونَ مِنْهُمْ وَيَمْتَنِعُونَ مِنَ الْمُرُورِ فِي أَشْغَالِهِمْ بِسَبَبِ ذَلِكَ لكونهم لا يجدون طريقا إلا ذلك الْمَوْضِعِ

Berdasarkan hadits ini, seharusnya untuk tidak duduk di jalan-jalan. Termasuk dalam katagori tidak mengganggu menjauhi ghibah, menjauhi berburuk sangka, menjauhi mengejek sebagian orang yang lewat dan membuat sempit jalan. Demikian juga apabila yang duduk di jalan tersebut orang yang ditakuti atau ada sesuatu yang dikuatirkan pada mereka dan dengan sebab itu dapat menghalangi berjalan (lalulintas) dalam pekerjaannya. Karena tidak mendapatkan jalan lain kecuali jalan tersebut. (Syarah Muslim: XIV/102)

 

Dalam syarah al-Mahalli ‘ala Minhaj disebutkan:

مَنْفَعَةُ الشَّارِعِ) الْأَصْلِيَّةُ (الْمُرُورُ) فِيهِ ويجوزالجلوس به لاستراحة ومعاملة ونحوهما اذا لم يضيق على المارة

Manfaat utama dari jalan umum adalah untuk dilewati (lalu lintas)  dan dibolehkan duduk di jalan umum untuk istirahat, mu’amalah dan seumpamanya apabila tidak menjadi sempit bagi yang melewatinya. (Qalyubi ‘ala Syarah al-Mahalli: III/94)

 

Dalam bab shuluh syarah al-Mahalli, disebutkan:

الطريق النافذ بالمعجمة ويعبر عنه بالشارع)  لا يتصرف فيه( بالبناء للمفعول )بما يضر المارة( في مرورهم فيه لانه حق لهم

Jalan tembus/jalan umum (ditulis dengan titik satu) dan disebut juga dengan syari’ tidak boleh menggunakannya dengan sesuatu yang memudharatkan orang yang melewatinya dalam lalu lintas mereka, karena jalan tersebut merupakan hak mereka. (Qalyubi ‘ala Syarah al-Mahalli: II/388)


Sesuai dengan keterangan ini, pada dasarnya pemanfaatan utama jalan umum diperuntukkan untuk lalu lintas masyarakat. Karena itu, hanya dibolehkan pemanfaatan untuk hal lain selama tidak mengganggu lalu lintas. Hal ini karena mengamalkan hadits Nabi SAW berbunyi:

لا ضرر ولا ضرار

Tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan tidak boleh memudharatkan orang lain (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Daraulquthniy dan lainnya).

 

Kesimpulan

1.  Kegiatan pengumpulan donasi atau sumbangan merupakan bentuk nyata dari amar ma’ruf atau mengajak pada kebaikan dan tolong-menolong dalam taqwa.

2.  Kegiatan pengumpulan donasi atau sumbangan yang mengganggu lalu lintas seperti meletakkan drum kaleng (kaleng besar bekas tempat oli) atau berdiri di badan jalan yang sangat berpotensi membahayakan pengguna jalan, hukumnya  adalah haram

 

Jumat, 09 Januari 2026

Hukum Wadh’i dalam Ushul Fiqh

 

Dalam ushul fiqh, hukum syara’ dibagi dua, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i. Diantara ulama yang berpendapat hukum wadh’i termasuk dalam katagori hukum syar’i adalah Ibnu Hajib. (Hasyiah al-‘Ithar ‘ala Syarh Jam’u al-Jawami’: I/75). Pendapat ini kemudian diikuti Zakariya al-Anshari. (Ghayah al-Wushul: 6). Karena memahami secara dhahir devinisi yang dikemukakan oleh Tajul Subkiy, al-Mahally berpandangan bahwa Tajul Subkiy termasuk ulama yang berpendapat hukum wadh’i tidak termasuk hukum syar’i. Dalam Syarh Jam’u al-Jawami’, Jalaluddin al-Mahalli mengatakan:

واما خطاب الوضع الاتي فليس من الحكم المتعارف كما مشى عليه المصنف

Adapun khithab wadh’i yang akan datang, maka tidak termasuk dalam hukum yang didevinisikan sebagaimana pendapat pengarang (Tajul Subkiy) (Hasyiah al-Banaaniy ‘ala Syarh al-Mahalli ‘ala Jam’u al-Jawami’: I52)

 

Kemudian, jika hukum taklifi ialah seperangkat hukum yang berisikan tuntutan, larangan, atau pembolehan, maka pengertian hukum wadh’i lebih bersifat penjelasan atau petunjuk tentang situasi bagaimana tuntutan dan lainnya tersebut diberlakukan.

Imam al-Sanusi (seorang ulama Malikiyah, yang lebih terkenal sebagai penulis aktif di bidang akidah ‘Asy’ariyah) mendevinisikan hukum wadh’i sebagai berikut:

عبارة عن نصب الشارع أمرا من الامور أمارة على حكم من الاحكام الخمسة

Suatu pernyataan tentang ketetapan syara’ terhadap suatu perkara dari berbagai perkara sebagai tanda (petunjuk) hukum dari hukum yang lima (Syarah Muqaddimah: 61)

 

Kemudian Imam al-Sanusi menjelaskan, tanda dan petunjuk hukum tersebut ada dari aspek wujudnya dan tidak wujudnya, atau dari aspek wujudnya saja ataupun dari aspek tidak wujud saja. Dari aspek wujud dan tidak wujudnya disebut sebab, dari aspek wujudnya saja disebut maani’ dan dari aspek tidak wujudnya disebut syarat.

Berdasarkan penjelasan ini, maka sebab adalah:

ما يلزم من وجوده الوجود ومن عدمه العدم لذاته

Sesuatu yang dari kewujudannya itu menyebabkan wujud yang lain dan dari ketidakwujudannya menyebabkan tidak wujud yang lain karena zatnya.

 

Devinisi ini menjelaskan bahwa sebab dari aspek wujud dan tidak wujudnya dapat mempengaruhi berlakunya suatu hukum. Apabila tergelincir matahari dijadikan sebab kewajiban shalat dhuhur, maka wujud tergelincir matahari menyebabkan wajib shalat dhuhur dan sebaliknya, apabila tergelincir matahari tidak wujud, maka kewajiban shalat dhuhur juga tidak wujud.

Adapun syarat adalah:

ما يلزم من عدمه العدم ولا يلزم من وجوده وجود ولا عدم لذاته

Suatu yang dari ketidakwujudannya menyebabkan tidak wujud yang lain, akan tetapi dari kewujudannya belum tentu wujud dan belum tentu juga tidak wujud yang lain karena zatnya

 

Devinisi ini menjelaskan bahwa syarat hanya dari aspek tidak wujudnya dapat mempengaruhi berlakunya suatu hukum, yaitu tidak adanya hukum. Adapun dari aspek wujud syarat tidak dapat mempengaruhi apapun, baik wujud hukum ataupun tidak wujud hukum. Apabila thaharah dijadikan syarat bagi sah shalat, maka ketidakwujudan thaharah mempengaruhi kepada tidak sah shalat. Adapun wujud thaharah belum tentu menyebabkan sah shalat atau tidak sah. Karena bisa saja shalatnya tidak sah karena faktor lain seperti tidak menutup aurat. Demikian juga bisa saja sah, karena sempurna syarat-syarat lain.

Ketiga, maani’, yaitu:

مَا يَلْزَمُ مِنْ وُجُوْدِه العَدَم وَلاَ يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِه وُجُوْد وَلاَ عَدَم لِذَاتِهِ

Sesuatu yang dari kewujudannya menyebabkan tidak wujud yang lain, akan tetapi dari ketidakwujudannya belum tentu wujud dan tidak wujud yang lainnya karena zatnya.

 

Devinisi ini menjelaskan bahwa maani’ hanya dari aspek kewujudannya dapat mempengaruhi berlakunya suatu hukum, yaitu tidak wujud hukum. Adapun dari aspek ketidakwujudannya tidak mempengaruhi apapun, baik wujud hukum atau tidak wujud hukum. Apabila datang haidh bagi perempuan menjadi maani’ (penghalang) bagi wajib shalat, maka wujud haidh itu mempengaruhi terhadap kewajiban shalat bagi perempuan yaitu tidak wajib shalat. Adapun tidak berhaidh tidak dapat memastikan wajib atau tidak wajib shalat bagi perempuan. Karena bisa saja wajib apabila sempurna syarat-syaratnya dan tidak ada maani’ lain seperti nifas dan juga bisa tidak wajib karena ada maani’ lainnya. (Syarah Muqaddimah: 61-67)

Devinisi hukum wadh’i dan penjelasannya yang dikemukakan Imam al-Sanusi di atas membatasi hukum wadh’i hanya dalam tiga pembagian, yaitu sebab, syarat dan maani’. Pembatasan ini juga terlihat dalam devinisi yang dikemukakan oleh Syeikh Wahab Khalaf berikut ini:

 وأما الحكم الوضعي فهو ما اقتضى وضع شيء سببًا لشيء، أو شرطًا له، أو مانعًا منه

Hukum wadh’i ialah tuntunan meletakkan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau penghalang bagi lainnya (terciptanya hukum). (Ilmu Ushulil Fiqh: 102).

Namun pada saat yang sama, beliau membagi hukum wadh’i kepada sebab, syarat, maani’, rukhsah dan ‘azimah serta shahih dan tidak shahih. Padahal dhahirnya, ini bertentangan dengan devinisi hukum wadh’i dari beliau sendiri. Dalam devinisi beliau di atas, dhahirnya hukum wadh’i hanya terbatas pada sebab, syarat dan maani’ saja. (Ilmu Ushulil Fiqh: 117). Salah satu ulama Ushul yang berpendapat bahwa hukum wadh’i terbagi kepada sebab, syarat, maani’, sah, faasid, ‘azimah dan rukhsah adalah Saifuddin al-Aamadiy. (Hasyiah Sa’ad al-Taftazaaniy ‘ala Syarh Mukhtshar al-Muntaha: II/23)

Zakariya al-Anshari dalam Ghayah al-Wushul mendevinisikan hukum wadh’i sebagai:

الخطاب الوارد بكون الشيء سببا وشرطا ومانعا وصحيحا وفاسدا

Kalam Allah yang datang menjelaskan sesuatu sebagai sebab, syarat, maani’, shahih dan faasid. (Ghayah al-Wushul: 6)

 

Berdasarkan devinisi yang dikemukakan oleh Zakariya al-Anshari ini, maka hukum wadh’i terbagi kepada lima, yaitu sebab, syarat, maani’, shahih dan faasid. Devinisi dan pembagian hukum wadh’i kepada lima ini juga terdapat dalam kitab asal Ghayah al-Wushul, yaitu kitab Jam’u al-Jawami’ karya Tajul al-Subkiy: 84-46.

Sebagaimana halnya Ibnu Hajib, ‘Adhuddin al-Iijiy berpendapat bahwa shahih dan faasid ini tidak termasuk hukum syara’. Karena shahih dan tidak shahih suatu perkara dapat dipahami dengan akal semata, tanpa perlu menunggu petunjuk syara’. Karena itu, shahih dan faasid tidak termasuk hukum wadh’i yang notabenenya merupakan hukum syar’i. Al-‘Azhuddin al-Iijiy mengatakan,

فاعلم انه قد يظن ان الصحة والبطلان في العبادة من جملة احكام الوضع فأنكر ذَالك اذ بعد ورود أمر الشرع بالفعل فكون الفعل موافقا للأمر أو مخالفا له وكون ما فعل تمام الواجب حتى يكون مسقطا للقضاء وعدمه لا يحتاج إلى توقيف من الشارع بل يعرف بمجرد العقل

Maka ketahuilah, barangkali disangka sesungguhnya sah dan batal dalam ibadah termasuk dalam kelompok hukum wadh’i. Pengarang (Ibnu Hajib) membantahnya. Karena setelah datang perintah syara’ terhadap suatu perbuatan, maka keadaan perbuatan bersesuaian atau tidak dengan yang sebenarnya dan keadaan suatu perbuatan sempurnah wajib sehingga dapat menggugurkan qadha atau tidak, maka itu tidak memerlukan kepada tauqif (ketentuan) dari syara’, akan tetapi dapat dikenali dengan semata-mata akal. (Syarah Mukhtashar al-Muntahaa, karya Al-‘Azhuddin al-Iijiy: II/229)

 

Kutipan perkatan ‘Adhuddin al-Iijiy ini juga telah dikutip Abdurrahman al-Syirbiiniy dalam Taqrir beliau terhadap kitab Hasyiah al-Bananiy ‘ala Syarh Jam’u al-Jawami’: I/84). Al-‘Ithar termasuk dalam kelompok ulama yang berpendapat bahwa shahih dan faasid tidak termasuk dalam kelompok hukum wadh’I, beliau mengatakan,

فالحق ان الصحة والفساد من الاحكام العقلية لم يرد بها الخطاب وعلى هذَا فالاحكام الوضعية ثلاثة

Maka yang benar, sesungguhnya sah dan fasid termasuk hukum aqliyah yang tidak datang kalam syara’ padanya. Berdasarkan ini, maka hukum wadh’i terbagi tiga. (Hasyiah al-‘Ithar ‘ala Syarh Jam’u al-Jawami’: I/139)

 

Perbedaan antara hukum taklifi hukum wadh’i

Dalam kitabnya, Bahrul Muhith, al-Zarkasyi menyebut beberapa titik perbedaan antara hukum (khithab) taklifi dan hukum wadh’i, yaitu:

1.  Hukum taklifi sasarannya hanya perbuatan mukallaf, sedangkan sasaran hukum wadh’i bisa dengan perbuatan bukan mukallaf. Karena itu, apabila hewan peliharaan atau anak kecil menghilangkan milik orang lain, maka pemilik hewan atau wali si anak bertanggungjawab mrmbayar milik orang yang hilang tersebut. Karena wujud washaf menghilangkan milik orang lain yang menjadi sebab wajib membayar, meskipun tidak ada taklif karena bukan perbuatan mukallaf.

2.  Hukum taklifi hanya berhubungan dengan sesuatu yang mengandung usaha, berbeda dengan dengan hukum wadh’i. Karena itu, apabila terjadi pembunuhan tersalah, tanpa sengaja, maka diat diwajibkan atas kerabat (‘aqilah) pembunuh, meskipun pembunuhan itu bukan merupakan perbuatan usaha para kerabat. Kewajiban diat bukanlah karena faktor taklif, karena mustahil terjadi taklif dengan sebab perbuatan orang lain. Akan tetapi perbuatan orang lain menjadi sebab ditetapkan hak dalam tanggungjawab mereka (hukum wadh’i).

3.  Hukum wadh’i khusus berlaku pada perkara dimana hukumnya disandarkan kepada suatu sifat atau hikmah (apabila kita berpendapat boleh ta’lil dengan hikmah). Karena itu, hukum wadh’i tidak berlaku pada hukum yang tidak disandarkan kepada suatu sifat atau hukum ta’abudi yang tidak dapat dirasionalkan maknanya. Berdasarkan ini, barang siapa yang ihram, kemudian gila dalam ihramnya dan membunuh hewan perburuan, maka tidak wajib membayar denda apapun atas hartanya. Karena itu, tidak wajib membayar dendanya kecuali atas mukalaf. Sedangkan orang gila bukan mukallaf. Berdasarkan ini, batallah pendapat yang menduga bahwa ini termasuk khithab (hukum) wadh’i, karena hukumnya tidak disandarkan kepada suatu washaf atau hikmah.

4.  Hukum taklifi adalah asal, sedangkan hukum wadh’i adalah furu’. Karena itu apabila keduanya bertentangan, maka didahulukan hukum taklifi.

5.  Hukum wadh’i tidak disyaratkan kemampuan dan mengetahui dari mukallaf. Karena itu seorang ahli waris bisa mewarisi meskipun dia tidak mengetahui adanya hak warisan karena tidak mengetahui nasabnya. Demikian juga seorang perempuan jatuh talaknya meskipun dia tidak mengetahui pada saat ditalak. Namun demikian dalam masalah ini dikecualikan dua perkara:

a.    Sebab ‘uqubah (hukuman pidana), seperti qishas tidak wajib atas pembunuhan tersalah tanpa sengaja karena terjadi pembunuhan tanpa mengetahui dan qashad dan hudud zina tidak wajib dilaksanakan kalau terjadi secara syubhat dengan alasan yang sama. Demikian juga orang yang dipaksa berzina, tidak berlaku hudud atasnya karena ketidakmampuannya menolak berzina

b.    Sebab pemindahan hak milik, seperti jual beli, hibah, wasiat dan lain-lain. Pada akad pemindahan hak milik disyaratkan kemampuan dan mengetahui. Karena itu, jika seseorang mengucapkan lafazh akadnya tanpa diketahui maknanya karena mengguna bahasa ‘ajamiah (bukan Bahasa Arab), maka tidak berlaku atasnya kandungan akad. (Bahrul Muhith: I/171-173)