(ومن طرق الإبطال) لعلية الوصف.
(بيان أن الوصف طردي) أي من جنس ما علم من الشارع إلغاؤه إما مطلقا (كالطول)
والقصر في الأشخاص، فإنهما لم يعتبرا في شيء من الأحكام فلا يعلل بهما حكم. (و)
إما مقيدا بذلك الحكم (كالذكورة) والأنوثة (في العتق) ، فإنهما لم يعتبرا فيه فلا
يعلل بهما شيء من أحكامه الدنيوية، وإن اعتبرا في الشهادة والقضاء والإرث وغهرها.
وفي العتق بالنظر لأحكامه الأخروية فقد روى الترمذي من أعتق عبدا مسلما أعتقه الله
من النار، ومن أعتق أمتين مسلمتين أعتقه الله من النار .وتعبيري هنا وفيما يأتي في
السادس بالطردي أولى من تعبيره فيهما بالطرد، لأن الطرد من مسالك العلة على رأي
كما سيأتي.
Termasuk jalan membatalkan menjadi ‘illat sebuah washaf
adalah thardiy, yakni termasuk jenis
yang dimaklum dari syara’ pembatalannya. Ini adakalanya mutlaq seperti panjang
dan pendek pada seseorang. Maka keduanya tidak dii’tibar pada suatu dari hukum.
Karenanya, tidak di’illatkan hukum dengan keduanya.(1) Dan adakalanya yang dikaidkan
dengan hukum itu saja, seperti sifat laki-laki dan perempuan pada masalah
memerdekakan hamba sahaya. Maka keduanya tidak dii’tibar pada masalah
memerdekakan hamba sahaya. Karenanya, tidak di’illat dengan keduanya sesuatupun
dari hukumnya yang bersifat duniawiyah, meskipun dii’tibar pada kesaksian,
peradilan, warisan dan selainnya serta masalah memerdekakan hamba sahaya
ditinjau dari sisi hukumnya yang bersifat ukhrawiyah. Al-Turmidzi sungguh telah
meriwayatkan : “Barangsiapa yang memerdekakan hamba sahaya laki-laki yang
muslim, maka Allah akan memerdekakannya dari api neraka dan barangsiapa yang
memerdekakan dua orang hamba sahaya perempuan yang muslim, maka Allah akan
memerdekakannya dari api neraka.”(2) Ibaratku di sini dan yang akan datang pada
yang ke-enam dengan al-thardiy lebih bagus dari ibarat pengarang pada keduanya
dengan al-thard, karena al-thard termasuk
dari masalik ‘illat berdasarkan satu pendapat sebagaimana yang akan datang.
(و) من طرق الإبطال (أن لا
تظهر مناسبة) الوصف (المحذوف) أي الذي حذفه المستدلّ عن الاعتبار للحكم بعد بحثه
عنها لانتفاء مثبت العلية بخلافه في الإيماء. (ويكفي) في عدم ظهور مناسبته. (قول
المستدل بحثت فلم أجد) فيه (موهم مناسبة) أي ما يوهم مناسبته لعدالته مع أهلية
النظر، (فإن ادّعى المعترض أن) الوصف (المبقى) أي الذي بقاه المستدل (كذلك) أي لم
تظهر مناسبته. (فليس للمستدل بيان مناسبته) لأنه انتقال من طريق السبر إلى طريق
المناسبة، وذلك يؤدّي إلى الانتشار المحذور. (لكن له ترجيح سبره) على سبر المعترض
النافي لعلية المبقي كغيره. (بموافقة التعدية) لسبره حيث يكون المبقى متعديا إذ
تعدية الحكم محله أفيد من قصوره عليه.
Termasuk juga jalan membatalkan menjadi ‘illat sebuah
washaf adalah tidak dhahir munasabah washaf yang dibuang, yakni washaf yang
dibuang oleh yang beristidlal dari i’tibar bagi hukum sesudah bahas
munasabahnya, karena ternafi yang menetapnya sebagai ‘illat. Ini berbeda
ternafinya pada masalah iimaa’.(3) Dan memadai pada ketidak-adaan dhahir
munasabahnya perkataan yang beristidlal : “Aku telah membahasnya, akan tetapi
tidak aku dapati padanya yang mewahamkan munasabah”, yakni sesuatu yang
mewahamkan munasabahnya. Karena adilnya dan ahlinya bagi analisis. Maka
seandainya yang mengkritisi mendakwa bahwa washaf yang tersisa, yakni yang
disisakan oleh yang beristidlal seperti itu juga, yakni tidak dhahir
munasabahnya, maka tidak boleh bagi yang beristidlal menjelaskan munasabahnya.
Karena penjelasannya itu berpindah dari jalan al-sabr kepada jalan
al-munasabah.(4) Ini menyebabkan kepada tidak terfokus yang dijauhi dalam
diskusi. Akan tetapi boleh baginya tarjih al-sabr-nya atas al-sabr yang
mengkritisinya(5) yang menafikan menjadi ‘illat washaf yang tersisa sebagaimana
lainnya. Tarjihnya itu dengan muwafakat ta’diyah bagi al-sabr nya, karena
washaf yang tersisa ta’diyah. Karena ta’diyah hukum dari peristiwa hukumnya
lebih berfaedah dari terbatasi hukum atas peristiwa hukumnya saja.(6)
Penjelasannya
(1). Karena itu, panjang
dan pendek seseorang tidak dii’tibar pada qishas, kifarat, warisan, memerdekakan
hamba sahaya dan lainnya.[1]
(2). Hadits ini menunjukkan
ada perbedaan dalam hal pahala di hari akhirat antara memerdekakan hamba sahaya
laki-laki dan hamba sahaya perempuan.
(3) karena pada iima’
tidak disyaratkan adanya munasabah sebagaimana penjelasannya dalam masalah
iimaa’ sebelumnya.
(4).
Salah satu masalik ‘illat.
(5) Al-sabr yang
beristidlal, maksudnya hasil analisis yang dilakukan oleh yang beristidlal melalui
masalik ‘illat, al-sabr wal-taqsim. Al-sabr yang mengkritisinya, maksudnya hasil
analisis yang dilakukan oleh yang mengkritisinya melalui masalik ‘illat al-sabr
wal-taqsim.
(6). Maksud ta’diyah (melewati/melampaui)
adalah hukum tidak hanya berlaku pada peristiwa hukum yang ada nashnya, akan
tetapi juga berlaku pada peristiwa lain dengan jalan qiyas. Ta’diyah ini
merupakan salah satu jalan tarjih.[2]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar