Kamis, 23 Januari 2014

DR. KH. Sahal Mahfudz, Tokoh Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Indonesia Wafat Meninggalkan kita

TRIBUNNEWS.COM – Kabar duka menyelemuti keluarga besarNahdlatul Ulama (NU). Jumat (24/1/2014) dinihari ini, salah seorang kiai yang dihormati di NU, yakni Kiai Sahal Mahfudz, dikabarkan meninggal dunia.
Kabar mengenai meninggalnya Kiai Sahal Mahfudz itu disampaikan melalui akun twitter resmi NU (@nu_online). “Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz wafat Jumat (24/1) pukul 01.05. Duka mendalam utk Indonesia. Al-Fatihah,” demikian kicauan di akun twitter tersebut.
Kiai Sahal dikabarkan wafat di kediamannya, di kompleks pesantren Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah.
Dikutip dari wikipedia, Kia Sahal Mahfudz lahir di Kajen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, 17 Desember 1937. Beliau selama dua periode menjabat sebagai Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sejak 1999 hingga saat ini.
Selain itu Kiai Sahal selama 10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, kemudian didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni 2000 sampai tahun 2005.
Di luar itu, Kiai Sahal adalah pemimpin Pesantren Maslakul Huda (PMH) sejak tahun 1963. Pesantren di Kajen Margoyoso (Pati, Jawa Tengah) ini didirikan ayahnya, KH Mahfudh Salam, pada 1910. Selain itu Kiai Sahal adalah rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU), Jepara, Jawa Tengah sejak tahun 1989 hingga sekarang.

(Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/01/24/rais-aam-pbnu-kiai-sahal-mahfudz-meninggal-dunia)

Dicatat oleh Kang Jaka @ 20.04
DR. KH. MA. Sahal Mahfudz
Nama lengkap KH. MA. Sahal Mahfudz (selanjutnya disebut dengan Kyai Sahal) adalah Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abd. Salam Al-Hajaini lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada tanggal 17 Desember 1937.
Beliau adalah anak ketiga dari enam bersaudara yang merupakan ulama kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat baik dalam ruang lingkup lokal (masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya) dan ruang lingkup nasional.
Sebelum orang mengenal Kyai Sahal, orang akan mengenalnya sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Dengan penampilan yang sederhana orang mengira, beliau sebagai orang biasa yang tidak punya pengetahuan apapun. Namun ternyata pengetahuan dan kepakaran Kyai Sahal sudah diakui. Salah satu contoh, sosok yang menjadi pengasuh pesantren2 ini pernah bergabung dengan institusi yang bergerak dalam bidang pendidikan, yaitu menjadi anggota BPPN3 selama 2 periode yaitu dari tahun 1993-2003.
Kyai Sahal lahir dari pasangan Kyai Mahfudz bin Abd. Salam al- Hafidz (w 1944 M) dan Hj. Badi’ah (w. 1945 M) yang sedari lahir hidup di pesantren, dibesarkan dalam lingkungan pesantren, belajar hingga ladang pengabdiannya pun ada di pesantren. Saudara Kyai Sahal yang berjumlah lima orang yaitu, M. Hasyim, Hj. Muzayyanah (istri KH. Mansyur Pengasuh PP An-Nur Lasem), Salamah (istri KH. Mawardi, pengasuh PP Bugel-Jepara, kakak istri KH. Abdullah Salam ), Hj. Fadhilah (istri KH. Rodhi Sholeh Jakarta), Hj. Khodijah (istri KH. Maddah, pengasuh PP Assuniyah Jember yang juga cucu KH. Nawawi, adik kandung KH. Abdussalam, kakek KH. Sahal.).
Pada tahun 1968/69 Kyai Sahal menikah dengan Dra Hj Nafisah binti KH. Abdul Fatah Hasyim, Pengasuh Pesantren Fathimiyah Tambak Beras Jombang dan berputra Abdul Ghofar Rozin yang sejak sekarang sudah dipersiapkan untuk menggantikan kepemimpinan Kyai Sahal.
A. Latar Belakang Kehidupan
KH. Sahal Mahfudz dididik oleh ayahnya yaitu KH. Mahfudz dan memiliki jalur nasab dengan Syekh Ahmad Mutamakkin, namun KH. Sahal Mahfudz sangat dipengaruhi oleh kekyainan pamannya sendiri, K.H. Abdullah Salam. Syekh Ahmad Mutamakkin sendiri termasuk salah seorang pejuang Islam yang gigih, seorang ahli hukum Islam (faqih) yang disegani, seorang guru besar agama dan lebih dari itu oleh pengikutnya dianggap sebagai salah seorang waliyullah.
Sedari kecil Kyai Sahal dididik dan dibesarkan dalam semangat memelihara derajat penguasaan ilmu-ilmu keagamaan tradisional. Apalagi Kiai Mahfudh Salam (yang juga bapaknya sendiri) seorang kiai ampuh, dan adik sepupu almarhum Rais Aam NU, Kiai Bisri Syamsuri. Selain itu juga terkenal sebagai hafidzul qur’an yang wira’i dan zuhud dengan pengetahuan agama yang mendalam terutama ilmu ushul.
Pesantren adalah tempat mencari ilmu sekaligus tempat pengabdian Kyai Sahal. Dedikasinya kepada pesantren, pengembangan masyarakat, dan pengembangan ilmu fiqh tidak pernah diragukan Pada dirinya terdapat tradisi ketundukan mutlak pada ketentuan hukum dalam kitab-kitab fiqih dan keserasian total dengan akhlak ideal yang dituntut dari ulama tradisional. Atau dalam istilah pesantren, ada semangat tafaqquh (memperdalam pengetahuan hukum agama) dan semangat tawarru’ (bermoral luhur).
Ada dua faktor yang mempengaruhi pemikiran Kyai Sahal yaitu, pertama adalah lingkungan keluarganya. Bapak beliau yaitu Kyai Mahfudz adalah orang yang sangat peduli pada masyarakat. Setelah Kyai Mahfudz meninggal, Kyai Sahal kemudian diasuh oleh KH. Abdullah Salam, orang yang sangat concern pada kepentingan masyarakat juga. Beliau adalah orang yang mendalami tasawuf juga orang yang berjiwa sosial tinggi. Dalam melakukan sesuatu ada nilai transendental yang diajarkan tidak hanya dilihat dari segi materi. Kyai Mahfudz orang yang cerdas, tegas dan peka terhadap persoalan sosial dan KH. Abdullah Salam juga orang yang tegas, cerdas, wira’I, muru’ah, dan murah hati. Di bawah asuhan dua orang yang luar biasa dan mempunyai karakter kuat inilah Kyai Sahal dibesarkan.
Yang kedua dari segi intelektual, Kyai Sahal sangat dipengaruhi oleh pemikiran Imam Ghazali. Dalam berbagai teori Kyai Sahal banyak mengutip pemikiran Imam Ghazali.13 Selama belajar di pesantren inilah Kyai Sahal berinteraksi dengan berbagai orang dari segala lapisan masyarakat baik kalangan jelata maupun kalangan elit masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran beliau. Selepas dari pesantren beliau aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Perpaduan antara pengalaman di dunia pesantren dan organisasi inilah yang diimplementasikan oleh Kyai Sahal dalam berbagai pemikiran beliau.
Minat baca Kyai Sahal sangat tinggi dan bacaannya cukup banyak terbukti beliau punya koleksi 1.800-an buku di rumahnya. Meskipun Kyai Sahal orang pesantren bacaannya cukup beragam, diantaranya tentang psikologi, bahkan novel detektif walaupun bacaan yang menjadi favoritnya adalah buku tentang agama. Beliau membaca dalam artian konteks kejadian. Tidak heran kalau Kiai Sahal—meminjam istilah Gus Dur—lalu ‘menjadi jago’ sejak usia muda. Belum lagi genap berusia 40 tahun, dirinya telah menunjukkan kemampuan ampuh itu dalam forum-forum fiqih. Terbukti pada berbagai sidang Bahtsu Al-Masail tiga bulanan yang diadakan Syuriah NU Jawa Tengah, beliau sudah aktif di dalamnya. 
Kyai Sahal adalah pemimpin Pesantren Maslakul Huda Putra sejak tahun 1963. Pesantren di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan oleh ayahnya, KH Mahfudz Salam, tahun 1910. Sebagai pemimpin pesantren, Kyai Sahal dikenal sebagai pendobrak pemikiran tradisional di kalangan NU yang mayoritas berasal dari kalangan akar rumput. Sikap demokratisnya menonjol dan dia mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya melalui pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.
B. Pendidikan dan Guru-guru KH Sahal
Untuk urusan pendidikan, yang paling berperan dalam kehidupan Kyai Sahal adalah KH. Abdullah Salam yang mendidiknya akan pentingnya ilmu dan tingginya cita-cita. KH. Abdullah Salam tidak pernah mendikte seseorang. Kyai Sahal diberi kebebasan dalam menuntut ilmu dimanapun. Tujuannya agar Kyai Sahal bertanggung jawab pada pilihannya. Apalagi dalam menuntut ilmu Kyai Sahal menentukan adanya target, hal inilah yang menjadi kunci kesuksesan beliau dalam belajar. Ketika belajar di Mathali’ul Falah Kyai Sahal berkesempatan mendalami nahwu sharaf, di Pesantren Bendo memperdalam fiqh dan tasawuf, sedangkan sewaktu di Pesantren Sarang mendalami balaghah dan ushul fiqh.
Memulai pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah (1943-1949), Madrasah Tsanawiyah (1950-1953) Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen, Pati. Setelah beberapa tahun belajar di lingkungannya sendiri, Kyai Sahal muda nyantri ke Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur di bawah asuhan Kiai Muhajir, Selanjutnya tahun 1957-1960 dia belajar di pesantren Sarang, Rembang, di bawah bimbingan Kiai Zubair. Pada pertengahan tahun 1960-an, Kyai Sahal belajar ke Mekah di bawah bimbingan langsung Syaikh Yasin al-Fadani. Sementara itu, pendidikan umumnya hanya diperoleh dari kursus ilmu umum di Kajen (1951-1953).
Di Bendo Kyai Sahal mendalami keilmuan tasawuf dan fiqih termasuk kitab yang dikajinya adalah Ihya Ulumuddin, Mahalli, Fathul Wahab, Fathul Mu’in, Bajuri, Taqrib, Sulamut Taufiq, Sullam Safinah, Sullamul Munajat dan kitab-kitab kecil lainnya. Di samping itu juga aktif mengadakan halaqah- halaqah kecil-kecilan dengan teman-teman senior. Sedangkan di Pesantren Sarang Kyai Sahal mengaji pada Kyai Zubair19 tentang ushul fiqih, qawa’id fiqh dan balaghah. Dan kepada Kyai Ahmad beliau mengaji tentang Hikam. Kitab yang dipelajari waktu di Sarang antara lain, Jam’ul Jawami dan Uqudul Juman, Tafsir Baidlowi tidak sampai khatam, Lubbabun Nuqul sampai khatam, Manhaju Dzawin Nazhar karangan Syekh Mahfudz At-Tarmasi dan lain-lain.
C. Tugas dan Jabatan
Kyai Sahal bukan saja seorang ulama yang senantiasa ditunggu fatwanya, atau seorang kiai yang dikelilingi ribuan santri, melainkan juga seorang pemikir yang menulis ratusan risalah (makalah) berbahasa Arab dan Indonesia, dan juga aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Penghargaan yang diterima beliau terkait dengan masyarakat kecil adalah penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam bidang pengembangan ilmu fiqh serta pengembangan pesantren dan masyarakat pada 18 Juni 2003 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Peran dalam organisasipun sangat signifikan, terbukti beliau dua periode menjabat Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1999-2009) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2000-2010. Pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII (28/7/2005) Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), itu terpilih kembali untuk periode kedua menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2005-2010.
Pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Donohudan, Boyolali, Jateng., Minggu (28/11-2/12/2004), beliau pun dipilih untuk periode kedua 2004-2009 menjadi Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU). Pada 26 November 1999, untuk pertama kalinya dia dipercaya menjadi Rais Aam Syuriah PB NU, mengetuai lembaga yang menentukan arah dan kebijaksanaan organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan lebih 30-an juta orang itu. KH Sahal yang sebelumnya selama 10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, juga didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni 2000 sampai tahun 2005.
Selain jabatan-jabatan diatas, jabatan lain yang sekarang masih diemban oleh beliau adalah sebagai Rektor INISNU Jepara, Jawa Tengah (1989-sekarang) dan pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati (1963 - Sekarang).
Sedangkan pekerjaan yang pernah beliau lakukan, adalah guru di Pesantren Sarang, Rembang (1958-1961), Dosen kuliah takhassus fiqh di Kajen (1966-1970), Dosen di Fakultas Tarbiyah UNCOK, Pati (1974-1976), Dosen di Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang (1982-1985), Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara (1989-sekarang), Kolumnis tetap di Majalah AULA (1988-1990), Kolumnis tetap di Harian Suara Merdeka, Semarang (1991-sekarang), Rais 'Am Syuriyah PBNU (1999-2004), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI, 2000-2005), Ketua Dewan Syari'ah Nasional (DSN, 2000-2005), dan sebagai Ketua Dewan Pengawas Syari'ah pada Asuransi Jiwa Bersama Putra (2002-sekarang).
Sosok seperti Kyai Sahal ini kiranya layak menjadi teladan bagi semua orang. Sebagai pengakuan atas ketokohannya, beliau telah banyak mendapatkan penghargaan, diantaranya Tokoh Perdamaian Dunia (1984), Manggala Kencana Kelas I (1985-1986), Bintang Maha Putra Utarna (2000) dan Tokoh Pemersatu Bangsa (2002).
Sepak terjang KH. Sahal tidak hanya lingkup dalam negeri saja. Pengalaman yang telah didapatkan dari luar negeri adalah, dalam rangka studi komparatif pengembangan masyarakat ke Filipina tahun 1983 atas sponsor USAID, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Korea Selatan tahun 1983 atas sponsor USAID, mengunjungi pusat Islam di Jepang tahun 1983, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Srilanka tahun 1984, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Malaysia tahun 1984, delegasi NU berkunjung ke Arab Saudi atas sponsor Dar al-Ifta’ Riyadh tahun 1987, dialog ke Kairo atas sponsor BKKBN Pusat tahun 1992, berkunjung ke Malaysia dan Thailand untuk kepentingan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) tahun 1997.
D. Karya-karya KH. MA. Sahal Mahfudz
Kyai Sahal adalah seorang pakar fiqih (hukum Islam), yang sejak menjadi santri seolah sudah terprogram untuk menguasai spesifikasi ilmu tertentu yaitu dalam bidang ilmu Ushul Fiqih, Bahasa Arab dan Ilmu Kemasyarakatan. Namun beliau juga mampu memberikan solusi permasalahan umat yang tak hanya terkait dengan tiga bidang tersebut, contohnya dalam bidang kesehatan dan beliau menemukan suatu bagian tersendiri dalam fiqh.
Dalam bidang kesehatan Kyai Sahal mendapat penghargaan dari WHO dengan gagasannya mendirikan taman gizi yang digerakkan para santri untuk menangani anak-anak balita (hampir seperti Posyandu). Selain itu juga mendirikan balai kesehatan yang sekarang berkembang menjadi Rumah Sakit Islam. 
Berbicara tentang karya beliau, pada bagian fiqh beliau menulis seperti Al-Tsamarah al-Hajainiyah yang membicarakan masalah fuqaha, al-Barokatu al- Jumu’ah ini berbicara tentang gramatika Arab. Sedangkan karya Kyai Sahal yang berbentuk tulisan lainnya adalah: 
Buku (kumpulan makalah yang diterbitkan):
1.      Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul, (Surabaya: Diantarna, 2000)
2.      Pesantren Mencari Makna, (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999)
3.      Al-Bayan al-Mulamma' 'an Alfdz al-Lumd", (Semarang: Thoha Putra, 1999)
4.      Telaah Fikih Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh, (Semarang: Suara Merdeka, 1997)
5.      Nuansa Fiqh Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994)
6.      Ensiklopedi Ijma' (terjemahan bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu'ah al-Ij ma'). (Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987).
7.      Al-Tsamarah al-Hajainiyah, I960 (Nurussalam, t.t)
8.      Luma' al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmat, (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).
9.      Al-Faraid al-Ajibah, 1959 (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati)
Risalah dan Makalah (tidak diterbitkan):
1.      Tipologi Sumber Day a Manusia Jepara dalam Menghadapi AFTA 2003 (Workshop KKNINISNU Jepara, 29 Pebruari 2003).
2.      Strategi dan Pengembangan SDM bagi Institusi Non-Pemerintah, (Lokakarya Lakpesdam NU, Bogor, 18 April 2000).
3.      Mengubah Pemahaman atas Masyarakat: Meletakkan Paradigma Kebangsaan dalam Perspektif Sosial (Silarurahmi Pemda II Ulama dan Tokoh Masyarakat Purwodadi, 18 Maret 2000).
4.      Pokok-Pokok Pikiran tentang Militer dan Agama (Halaqah Nasional PB NU dan P3M, Malang, 18 April 2000)
5.      Prospek Sarjana Muslim Abad XXI, (Stadium General STAI al-Falah Assuniyah, Jember, 12 September 1998)
6.      Keluarga Maslahah dan Kehidupan Modern, (Seminar Sehari LKKNU, Evaluasi Kemitraan NU-BKKBN, Jakarta, 3 Juni 1998)
7.      Pendidikan Agama dan Pengaruhnya terhadap Penghayatan dan Pengamalan Budi Pekerti, (Sarasehan Peningkatan Moral Warga Negara Berdasarkan Pancasila BP7 Propinsi Jawa Tengah, 19 Juni 1997)
8.      Metode Pembinaan Aliran Sempalan dalam Islam, (Semarang, 11 Desember 1996)
9.      Perpustakaan dan Peningkatan SDM Menurut Visi Islam, (Seminar LP Ma'arif, Jepara, 14 Juli 1996)
10.  Arah Pengembangan Ekonomi dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Umat, (Seminar Sehari, Jember, 27 Desember 1995)
11.  Pendidikan Pesantren sebagai Suatu Alternatif Pendidikan Nasional, (Seminar Nasional tentang Peranan Lembaga Pendidikan Islam dalam Peningkatan Kualitas SDM Pasca 50 tahun Indonesia Merdeka, Surabaya, 2 Juli 1995)
12.  Peningkatan Penyelenggaraan Ibadah Haji yang Berkualitas, (disampaikan dalam Diskusi Panel, Semarang, 27 Juni 1995)
13.  Pandangan Islam terhadap Wajib Belajar, (Penataran Sosialisasi Wajib belajar 9 Tahun, Semarang 10 Oktober 1994)
14.  Perspektif dan Prospek Madrasah Diniyah, (Surabaya, 16 Mei 1994)
15.  Fiqh Sosial sebagai Alternatif Pemahaman Beragama Masyarakat, (disampaikan dalam kuliah umum IKAHA, Jombang, 28 Desember 1994)
16.  Reorientasi Pemahaman Fiqh, Menyikapi Pergeseran Perilaku Masyarakat, (disampaikan pada Diskusi Dosen Institut Hasyim Asy'ari, Jombang, 27 Desember 1994)
17.  Sebuah Releksi tentang Pesantren, (Pati, 21 Agustus 1993)
18.  Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi dari Sudut Kajian Politis, (Forum Silaturahmi PP Jateng, Semarang, 5 September 1992).
19.  Kepemimpinan Politik yang Berkeadilan dalam Islam, (Halaqah Fiqh Imaniyah, Yogyakarta, 3-5 Nopember 1992)
20.  Peran Ulama dan Pesantren dalam Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Umat, (Sarasehan Opening RSU Sultan Agung, Semarang, 26 Agustus 1992).
21.  Pandangan Islam Terhadap AIDS, (Seminar, Surabaya,1 Desember 1992)
22.  Kata Pengantar dalam buku Quo Vadis NU karya Kacung Marijan, (Pati, 13 Pebruari 1992)
23.  Peranan Agama dalam Pembinaan Gizi dan Kesehatan Keluarga, Pandangan dari Segi Posisi Tokoh Agama, Muallim, dan Pranata Agama, (Muzakarah Nasional, Bogor, 2 Desember 1991)
24.  Mempersiapkan Generasi Muda Islam Potensial, (Siaran Mimbar Agama Islam TVRI, Jakarta, 24 Oktober 1991)
25.  Moral dan Etika dalam Pembangunan, (Seminar Kodam IV, Semarang, 18-19 September 1991)
26.  Pluralitas Gerakan Islam dan Tantangan Indonesia Masa Depan, Perpsketif Sosial Ekonomi, (Seminar di Yogyakarta, 10 Maret 1991)
27.  Islam dan Politik, (Seminar, Kendal, 4 Maret 1989)
28.  Filosofi dan Strategi Pengembangan Masyarakat di Lingkungan NU, (disampaikan dalam Temu Wicara LSM, Kudus, 10 September 1989)
29.  Disiplin dan Ketahanan Nasional, Sebuah Tinjauan dari Ajaran Islam, (Forum MUIII, Kendal, 8 Oktober 1988)
30.  Relevansi Ulumuddiyanah di Pesantren dan Tantangan Masyarakat, (Mudzakarah, P3M, Mranggen, 19-21 September 1988)
31.  Prospek Pesantren dalam Pengembangan Science, (Refreshing Course KPM, Tambak Beras, Jombang 19 Januari 1988)
32.  Ajaran Aswaja dan Kaitannya dengan Sistem Masyarakat, (LKL GP Anshor dan Fatayat, Jepara 12-17 Februari 1988)
33.  AIDS dan Prostisusi dari Dimensi Agama Islam, (Seminar AIDS dan Prostitusi YAASKI, Yogyakarta, 21 Juni 1987)
34.  Sumbangan Wawasan tentang Madrasah dan Ma'arif, (Raker LP Ma'arif, Pati, 21 Desember 1986)
35.  Program KB dan Ulama, (Pati, 27 Oktober 1986)
36.  Hismawati dan Taman Gizi, (Sarasehan gizi antar santriwati,
37.  Administrasi Pembukuan Keuangan Menurut Pandangan Islam, (Latihan Administrasi Pembukuan dan Keuangan bagi TPM, Pan, 8 April 1986) 
38.  Pendekatan Pola Pesantren sebagai Salah Satu Alternatif membudayakan NKKBS, (Rapat Konsultasi Nasional Bidang, KB, Jakarta, 23-27 Januari 1984)
39.  Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan di Pesantren, (Lokakarya Pendidikan Kependudukan di Pesantren, (Jakarta, 6-8 Januari 1983)
40.  Tanggapan atas Pokok-Pokok Pikiran Pembaharuan Pendidikan Nasional, (27 Nopember 1979)
41.  Peningkatan Sosial Amaliah Islam, (Pekan Orientasi Ulama Khotib, Pati, 21-23 Pebruari 1977)
42.  Intifah al-Wajadain, (Risalah tidak diterbitkan)
43.  Wasmah al-Sibydn ild I'tiqdd ma' da al-Rahman, (Risalah tidak diterbitkan)
44.  I'dnah al-Ashhdb, 1961 (Risalah tidak diterbitkan)
45.  Faid al-Hija syarah Nail al-Raja dan Nazhdm Safinah al-Naja, 1961 (Risalah tidak diterbitkan)
46.  Al-Tarjamah al-Munbalijah 'an Qasiidah al-Munfarijah, (Risalah tidak diterbitkan)

(Sumber : http://santripegon.blogspot.com/2011/08/biografi-kh-ma-sahal-mahfudz.html)

Rabu, 22 Januari 2014

Teungku ‘Aidarus Sang Ulama Dan Pejuang


Tengku ‘Aidarus yang akrab disapa dengan Abu Mesjid Sabang dengan nama lengkap beliau adalah Syech Al Hajj ‘Aidarus Bin Al Hajj Sulaiman. Beliau adalah salah seorang Ulama tinggi dimasa pra kemerdekaan Republik Indonesia disamping itu beliau juga seorang pejuang dalam melawan penjajahan Belanda khususnya di tanah Daya Lamno Jaya yang sekarang berkaputen Aceh Jaya.
Teungku ‘Aidarus dilahirkan dari hasil pernikahan Teungku H. Khatib Sulaiman Ibnu Nakhoda Muhammad Thaib dengan Hajjah Khadijah pada Tahun 1290 Hijriyah atau yang bertepatan dengan 1871 Masehi (tanggal dan bulan tidak diketahui secara pasti) di desa Leupee,Lamno. Dilihat dari Silsilah beliau memang di besarkan dalam keluarga yang berlatar belakang Ulama. Ayahnya adalah seorang Ulama yang masih memiliki hubungan darah dengan Sultan Alaiddin Ri’ayat Syah atau Po Teumereuhom yang menjadi raja pada Kerajaan Daya di Lamno sekitar Abad 16 M.
Sebagaimana lazimnya anak-anak tempo dulu, bentuk pendidikan dasar dilakukan oleh orang tua,disamping pada saat itu belum ada pendidikan formal sehingga teungku ‘Aidarus belajar ilmu keagamaan pada ayahandanya. setelah mengunyam pendidikan dasar dan belajar Al Qur’an hingga khatam pada orang tuanya barulah teungku ‘Aidarus (kecil) melanjutkan Pendidikan pada teungku Muhammad Saleh Lhue salah satu desa di daerah Lamno, disini Teungku ‘Aidarus mulai belajar beberapa kitab Arab Jawi dan beliau juga mulai belajar kitab-kitab berbahas Arab, khususnya kitab Nahu dan Sharaf seperti kitab Awamil, Jarumiyah dan kitab mutammimah hingga tamat.
Sejak itu, Teungku ‘Aidarus sudah memperlihatkan tanda-tanda kecerdasannya di antara murid-murid yang lain, beliau termasuk murid yang jenius. Setiap pelajaran yang diberikan gurunya dapat dengan cepat di fahami dan dengan mudah dapat dihafalkannya. melihat Semangat belajar teungku ‘Aidarus (muda) sangat tinggi maka ayahandanya teungku H.Sulaiman terus mendorong puteranya ini untuk melanjutkan pendidikan pada Teungku H. Muhammad Arif seorang Ulama Ahli Fiqih dan Tasawuf kala itu.
Selama beberapa Tahun Belajar pada Teungku H. Muhammad Arif, Teungku ‘Aidarus sudah menguasai ilmu Fiqih dan Tasawuf secara mendalam. karena kejelian dan keuletan beliau dalam mengunyah ilmu sehingga sang guru Teungku H. Muhammad Arif memberikan perhatian lebih kepada Teungku ‘Aidarus sebagai salah satu murid kesayangannya. Hal itu di buktikan oleh sang guru dengan sikap didikan yang menuntun segala kemampuan Teungku H. Muhammad Arif dengan segala ilmunya  di tempah kepada Teungku ‘Aidarus termasuk Ilmu Akhlak sebagai Ilmu yang sangat di sukai oleh Teungku H.Muhammad Arif sendiri.
Setelah sekian lamanya berguru pada Teungku H. Muhammad Arif, karena sang guru melihat bakat yang luar biasa pada Teungku ‘Aidarus sang guru menyarankan agar Teungku ‘Aidarus  melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu di Dayah Bung Cala, Aceh Besar yang dikala itu di pimpin Oleh Teungku H. Ahmad Tanoeh Mirah. saran gurunya di sambut baik oleh Teungku ’Aidarus sehingga Ia di antarkan oleh orang tuanya ke Dayah Teungku H. Tanoh Mirah Aceh Besar. Hal ini sesuai permintaan Teungku H. Tanoh Mirah itu sendiri disaat berkunjung ke kampung leupee Lamno dan bertemu dengan Teungku H. Muhammad Arif, sang guru menceritakan kepada Teungku H. Tanoeh Mirah akan kecerdasan dari muridnya ini.
Saat itulah rasa ketertarikan Teungku H. Tanoeh Mirah untuk meminta agar Teungku ‘Aidarus dapat melanjutkan pendidikannya pada Dayah yang di pimpinnya itu. Teungku ‘Aidarus sampai di Dayah Bung Cala bertepatan dengan kenduri 40 hari syahidnya pahlawan Nasional Teungku H. Muhammad Saman di Tiro yang lebih di kenal dengan sebutan Teungku Chik Di Tiro. Menurut riwayat Teungku ‘Aidarus sendiri sempat turut serta dalam pengajian Al quran dan berdoa serta tahlilan pada malam kenduri 40 hari wafatnya Teugku Chik Di Tiro. Selama tiga tahun beliau belajar pada teungku Tanoh Mirah di Aceh Besar, beliau telah menguasai kitab-kitab yang paling pokok seperti, kitab Matan Minhajut Thalibin karangan Imam Nawawi dan kitab Alat seperti Kitab Matan Alfiyah Karangan Imam Malik, Kedua kitab ini bukan hanya sekedar bisa di baca tetapi dapat di artikan dan di tela’ah serta di hafal di luar kepala (lancar).
Selain itu Teungku ‘Aidarus juga mendalami Ilmu Manthiq (Logika), Bayan dan Ma’ani, disamping beliau belajar Ia juga sering bertukar pikiran tentang ilmu yang telah di pelajari dengan Teungku Abdurrahman Teumareum untuk menguji kemampuan yang mereka miliki. setelah tiga tahun beliau menimba ilmu di Dayah Bung Cala Aceh Besar terpaksa harus berakhir karena pimpinan Dayah termasuk Teungku Tanoh Mirah harus bergabung dengan para Ulama lainnya melakukan Perang Fisabilillah meneruskan perjuangan Teungku Chik Di Tiro.
Sebelum beliau meninggalkan Dayah Teungku Tanoh Mirah di Aceh Besar sang guru terlebih dulu mengijazahkan muridnya untuk membuka dayahnya sendiri disamping itu sang guru juga membekali Teungku ‘Aidarus dengan berbagai ilmu Thariqat seperti Thariqat Thahariyah, Haddadiyah dan Berbagai doa lainnya. ketika itu juga sang guru juga mewasiatkan kepada Teungku ‘Aidarus agar setibanya di negeri Daya Lamno agar dapat menggerakkan umat Islam untuk berjihad Fisabilillah mengusir penjajah Belanda di Bumi Aceh. Pesan Teungku Tanoh Mirah ini sambil Ia menyerahkan sebilah pedang kepada Teungku ‘Aidarus. setiba beliau di kampung halaman beliau langsung melaksanakan amanah sang guru dengan menyerukan kepada masyarakat Lamno untuk jihad Fisabilillah melawan Belanda yang kala itu menjajah kawasan Nanggroe Daya tersebut. Teungku ‘Aidarus sendiri saat itu terjun lansung memimpin barisan melawan penjajah dengan masyarakat di Lamno. sampai sekarang masyarakat Lamno masih dapat menunjukkan bukti keterlibatan Teungku ‘Aidarus sebagai Ulama dan pemimpin perang melawan Belanda yaitu tempat persembunyian lascar mujahidin pimpinan Teungku ‘Aidarus di Guha Sejhik Beranak di kaki Gle Calhek Kuala Daya manakala pasukan Teungku ‘Aidarus di kejar oleh penjajah Belanda.
Dalam riwayat diceritakan bahwa sebelum beliau memimpin gerilya kala umurnya berusia 25 tahun beliau menikah dengan Siti Hawa yang berasal dari Lame,  dari hasil perkawinannya dengan Nyak Ti Hawa (panggilan Akrab Ummi Siti Hawa) di karuniailah dua orang putera yaitu Muhammad Adam (meninggal dikala remaja) dan Muhammad Juned (meninggal di usia masih kanak-kanak). Karena takdir sedemikian maka beliau mengadopsi Keponakannya yaitu Teungku Darimi sebagai penerus jejak beliau. Di masa tersebut juga beliau menunaikan Ibadah Haji bersama orang tuanya Teungku H. Sulaiman. Selama di Mekah rasa kehausan beliau terhadap ilmu Allah kembali sangat terasa, beliau mempergunakan kesempatan untuk mendalami ilmunya pada Ulama yang mengajar di Masjidil Haram layaknya kata pribahasa Sambil menyelam minum Air itulah filosofi dari Teungku ‘Aidarus. selama di Mekah beliau belajar tentang perbandingan Empat Mazhab dan Ilmu Dalail Khairat serta Hizib-Hizib yang terdapat pada pinggir kitab Dalail yang diajarkan oleh para Ulama disana di antaranya Syech Said Ridwan bin Saidi Ridwan. rasa kehausan beliau terhadap ilmu terpaksa terhenti perjalanannya karena mengingat beliau harus segera kembali ke negeri Daya karena saat itu sedang di jajah oleh Belanda untuk memimpin barisan melawan penjajah Belanda.
Sepulang dari Mekah, Teungku ‘Aidarus mengetahui bahwa banyak diantara Ulama di Aceh Besar dan Pidie telah Syahid di medan perang maka Teungku ‘Aidarus bertekad menghadapi tugas yang lebih berat lagi yaitu menyeru ummat untuk terus berjihad di jalan Allah. Dalam riwayat di ceritakan, ketika itu Teungku ‘Aidarus bermimpi bertemu dengan gurunya Teungku Tanoh Mirah, di dalam mimpi sang guru berpesan kepada beliau agar dapat mengalihkan jihadnya dari melawan kafir kepada jihad melawan kebodohan dengan mengembangkan pendidikan Agama. Karena Isyarat sang guru itulah kemudian Teungku ‘Aidarus mulailah membuka pengajian pertama kali di Meunasah Rayeuk Lamno. Berawal dari sini para santri penuntut Ilmu Agama berdatangan  untuk menimba ilmu yang di ajarkannya didayah yang sederhana itu.
Setelah dua tahun beliau membuka pengajian di Meunasah Rayeuk kemudian masyarakat Meukhan meminta agar beliau membuka pengajian di Meukhan serta menetap di daerah itu juga. di tempat yang baru ini pengajian terus berkembang pesat berbagai santri terus berdatangan selain dari masyarakat Lamno juga terdapat santri dari luar daerah Daya, Lamno. diantaranya Aceh Barat, Aceh Selatan dan Aceh lain yang mencari seberkah cahaya dari beliau. Dengan demikian Dayah yang dipimpin oleh Teungku ‘Aidarus di Meukhan Lamno semakin termasyhur dengan banyaknya santri yang datang dari berbagai pelosok belajar pada dayah yang di pimpinnya itu, Semakain banyaknya murid yang meudagang (menuntut ilmu Agama) pada beliau maka beliau mulai sedikit kewalahan menampung para santrinya karena tempat pemondokan didayah pengajiannya agak terbatas. Sehingga dengan berbagai pertimbangannya, Teungku ‘Aidarus harus mengembangkan dayahnya secara permanen untuk dapat menampung hingga ratusan yang menetap di dayahnya. Atas  pertimbangan itulah Teungku ‘Aidarus harus kembali lagi ke kampung asalnya yaitu kampung Leupee untuk membuka dayah yang lebih besar dan permanen untuk menampung jumlah santri yang lebih luas.
Cita-cita itu kiranya telah menumbuhkan hasil sehingga pada tahun 1911 M Teungku ‘Aidarus resmi Mendirikan Dayah secara teroganisir di kampung Leupee, Dayah Masjid Sabang dengan nama ‘Aidarusiah atau yang lebih akrab di kenal Dayah Masjid Sabang yang kemudian dayah ini berkembang sangat pesat di bawah tampuk kepemimpinan Teungku ‘Aidarus. Sejalan dengan waktu yang terus meranjak usia beliaupun sudah tua dan janji Allah pun datang menghampiri Teungku ‘Aidarus. Beliau berpulang ke sisi Allah SWT. Pada tanggal 5 Ramadhan 1372 H atau bertepatan 18 Mei 1953 M di kala usia beliau 82 tahun.
Hilang sudah sang Mujahidin Islam dikala itu masyarakat Lamno terpukul dengan berita wafatnya beliau dan rasa sedih menyelimuti tanah Daya, Lamno. Kenapa begitu cepat beliau di panggil ke hadhiratNya inilah salah satu bukti kebesaran Allah. Selama masa hidup beliau juga terkenal sangat ‘alim dalam kajian Ilmu Nahu dan Fiqh sehingga banyak para Ulama di masa beliau merujuk kepada Teungku ‘Aidarus untuk mencari Solusi permasalan tentang hukum syar’i. Namun setelah Beliau wafat tidak ada warisan selain amanah lanjutkan syiar Agama di muka bumi Allah itu salah satu amanah pada detik-detik kepulangan Beliau kepada Allah SWT, dan kini tampuk kepemimpinan dayah ‘Aidarusiah Mesjid Sabang di estafetkan dibawah pimpinan keponakannya yaitu Teungku Darimi sampai sa’at ini. [TM]